Flascokids – Dilihat dari manapun, perilaku bullying memang meninggalkan bekas yang menyakitkan bagi setiap orang yang menjadi korbannya. Akibat dari perilaku bullying atau cyberbullying kurang lebih sama:

  • Anak akan dibuat tidak nyaman. Amarah, takut, tak berdaya, putus asa, terisolasi, malu atau bahkan rasa bersalah dapat menghantui si kecil ketika bullying terjadi. Terakhir, rasa yang paling menakutkan adalah keinginan untuk bunuh diri
  • Kesehatan fisik anak juga kemungkinan menurun akibat tekanan mental yang didapat dari bullying. Adapun resiko lain yang timbul antara lain depresi, merasa rendah diri, dan perasaan gelisah
  • Ada kemungkinan, anak memilih untuk bolos atau tidak mengikuti kelas untuk menghindari bully.

Dalam beberapa kasus, akibat dari cyberbullying bisa lebih menjadi-jadi karena beberapa hal berikut ini:

  • Cyberbullying dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Anak dapat mengalaminya bahkan di tempat yang ia anggap aman seperti rumah, di waktu yang bahkan tidak anak duga sama sekali seperti akhir pekan di saat ia berkumpul bersama keluarga. Rasanya, tidak ada jalan keluar dari semua penghinaan yang terjadi pada si kecil
  • Banyak cyberbullying yang terjadi tanpa diketahui pelakunya, sehingga kita sebagai orang tua pun tidak tahu siapa yang menarget anak. Hal ini hanya membuat si kecil merasa lebih tertekan dan malah membuat bully lebih menjadi-jadi dengan alasan pelaku tidak akan tertangkap dengan mudah. Yang paling parah, karena cyberbullies tidak bisa melihat ekspresi korban (anak), mereka juga “lebih berani” untuk melakukan cacian tanpa ampun, melebihi apa yang akan mereka lakukan ketika berhadapan langsung.
  • Cyberbullying berpotensi disaksikan oleh ribuan orang, semakin luas jangkauannya, semakin memalukan juga efek yang dihasilkan.

Kenapa Anak Dibuli?

Ada banyak alasan kenapa anak menjadi target bullying. Pembuli cenderung menarget anak yang “berbeda” atau anak yang tidak “masuk” dalam suatu kelompok. Bisa jadi karena apa yang si kecil kenakan, perilakunya yang memang berbeda, atau bahkan ras, agama, hingga orientasi seksualnya.

Yang paling sederhana mungkin karena si kecil masih baru dalam suatu lingkungan dan belum berteman sama sekali yang membuatnya menjadi sasaran bullying.

Adapun alasan kenapa anak “melakukan” bullying pada anak yang lain:

  1. Untuk mendapatkan perhatian atau membuat diri menjadi popular
  2. Karena anak iri
  3. Biar terlihat tangguh di hadapan orang
  4. Karena mereka sendiri pernah dibully
  5. Pelampiasan untuk menghindari masalah sendiri

Apapun alasan anak menjadi target bullying, buat si kecil sadar kalau ia tidak sendirian. Sebagian dari kita juga pernah menjadi sasaran bullying di beberapa titik dalam kehidupan kita.

Meski begitu, jangan biarkan anak menyerah begitu saja. Masih ada banyak orang di luar sana yang bisa membantunya mengatasi masalah ini. Pertahankan martabatnya, dan pertahankan kepercayaan dirinya sebaik mungkin.

Tips Bagi Orang Tua Atau Guru Untuk Menghentikan Perilaku Bullying

Mau sesakit apapun akibat yang dihasilkan dari bullying, anak seringkali enggan bercerita pada orang tua ataupun guru karena si kecil merasa malu menjadi “korban”. Beda lagi kasusnya dengan cyberbullying, anak enggan bercerita karena takut smartphonenya kita sita.

Pembully juga cenderung mahir menyembunyikan perilaku mereka dari orang dewasa. Jadi, apabila ada anak menjadi korban bully, orang tua ataupun guru biasanya kesulitan untuk mendeteksinya.

Meski begitu, merupakan hal yang super penting bagi kita orang tua untuk bisa melihat tanda-tanda bullying atau cyberbullying pada si kecil. Anak bisa menjadi korban pembullyan apabila mereka:

  1. Menjauhkan diri dari keluarga, teman hingga aktivitas yang tadinya ia sukai
  2. Mengalami penurunan nilai yang tidak bisa dijelaskan
  3. Menolak untuk pergi ke kelas tertentu
  4. Menolak untuk mengikuti aktivitas ekskul
  5. Menunjukkan perubahan mood, perilaku, kebiasaan tidur atau nafsu makan
  6. Menunjukkan tanda depresi atau kegelisahan
  7. Berubah menjadi sedih, marah, atau stres saat atau setelah online
  8. Gelisah ketika melihat pesan, email atau postingan di sosial media.

Meski penting bagi orang tua untuk tidak mengancam atau mengambil akses teknologi si kecil sebagai hukuman, terutama ketika tahu si kecil merupakan korban cyberbullying, orang tua juga senantiasa harus berani memonitor penggunaan gadget pada anak, terlepas dari seberapa bencinya anak pada hal tersebut. Tipsnya?

  1. Gunakan aplikasi ‘parental controls’ pada gadget anak dan pasang filter agar gadget dapat memblokir konten web yang tidak pantas. Install juga aplikasi yang dapat memonitor aktivitas online anak
  2. Ketahui siapa saja orang yang berkomunikasi dengan anak secara online
  3. Dorong anak agar mau bercerita pada orang tua atau orang dewasa lain yang tentunya anak percaya apabila si kecil mendapatkan pesan ancaman.

Kalau Si Kecil Yang Menjadi Pembuli

Beda lagi ceritanya kalau si kecil ternyata berperan sebagai pembully. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri perilaku negatif yang satu ini sebelum ia berubah menjadi super serius dan berdampak pada diri anak dalam jangka waktu yang lama.

Anak yang suka membully:

  1. Memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan
  2. Mudah bertengkar, mencoret properti bahkan di DO dari sekolah
  3. Dua kali lebih memungkinkan untuk mendapatkan hukuman pidana dan empat kali lebih memungkinkan menjadi pelanggar pasal berlapis dari orang dewasa pada umumnya
  4. Saat beranjak dewasa, ia akan lebih abusif (kasar) terhadap pasangan bahkan anaknya sendiri.

Kalau si kecil bermasalah dalam mengontrol emosinya terutama amarah, sakit hati atau frustasi, bicaralah pada terapis untuk membantunya mengatasi perasaan tersebut dalam norma yang lebih “sehat”.

Beberapa anak “pembully” juga belajar perilaku agresif dari pengalamannya saat di rumah. Sebagai orang tua, ada kemungkinan kalau kita mungkin mempertontonkan perilaku yang buruk pada anak seperti memukul, secara verbal atau fisik berlaku kasar pada pasangan atau bahkan memperlihatkan perilaku bullying seperti:

  1. Berkata kasar saat berkendara di jalan
  2. Mempermalukan waitress atau pegawai yang membuat suatu kesalahan
  3. Berkata hal negatif pada murid lain, orang tua mereka, atau bahkan guru hingga si kecil berpikir bahwa berperilaku seperti itu merupakan hal yang diterima
  4. Menyebarkan ujaran kebencian secara online.

Tips Mengatasi Anak Yang Suka Membully

Adapun tips untuk mengatasi anak yang suka membully:

  • Pelajari keseharian si kecil. Kalau kamu merasa tidak memberikan contoh yang buruk di rumah, kemungkinan lingkungannya lah yang mendorongnya untuk berbuat perilaku bullying. Bisa jadi teman atau mungkin orang di sekitarnya yang tidak kita ketahui. Bicaralah pada si kecil. Semakin kamu mengerti tentangnya, semakin mudah kamu mengidentifikasi akar permasalahannya.
  • Ajarkan anak mengenai apa itu bullying. Anak mungkin tidak mengerti betapa menyakitkannya akibat bullying pada anak lain (korban). Suntikkan rasa empati dan kesadaran akan sesama dengan mendorong anak untuk melihat aksi mereka dari kaca mata korban. Ingatkan anak kalau bullying atau cyberbullying dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.
  • Ajari anak untuk mengontrol emosi terutama stres dengan cara yang lebih sehat. Hal ini bisa kita lakukan dengan mengajaknya main ke alam, atau bermain bersama peliharaan.
  • Batasi penggunaan gadgetnya. Beritahu anak kalau kamu akan memonitor penggunaan gadget, komputer, dan smartphone. Kalau perlu, cabut aksesnya pada gadget apabila perilakunya belum berubah.
  • Bangun peraturan mengenai perilaku yang lebih mengikat. Anak mungkin berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan yang namanya disiplin. Meski begitu, kurangnya batasan hanya memperkuat sinyal bahwa si kecil tidak layak untuk waktu dan perhatian kamu sebagai orang tua.