Flascokids – Mandiin si kecil sebenarnya bisa menjadi kegiatan yang super duper menyenangkan. Tapi, seiring berjalannya waktu, anak mau tak mau harus belajar mandi secara independen.

Pertanyaannya memang absurd, “Kenapa anak musti belajar mandi sendiri?”. Oke, secara logis sih memang mandi sebaiknya dilakukan secara pribadi yaa, tapi untuk anak, mandi sendiri sangat baik untuk meningkatkan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawabnya.

Tapi yang paling penting, dengan mengajarkannya kemandirian mandi, anak juga bisa belajar mengenai body safety dan memahami bagian pribadi yang boleh dan tidak boleh orang sentuh.

Kapan Anak Bisa Belajar Mandi Sendiri?

Batita pada dasarnya belum bisa mandi sendiri. Mulailah di umurnya yang memasuki tiga sampai lima, anak akan mulai mandi dengan lebih aktif. Baik itu dengan menggunakan gayung, shower, atau bahkan ember.

Mengingat anak memang lebih mudah belajar dari meniru, jangan ragu untuk mandi bareng bersama si kecil.

Tidak hanya mandi bareng, bunda juga bisa mengajarkan si kecil topik yang sama melalui permainan. Yang paling gampang sih memandikan boneka. Apa bunda pernah mengajarkan si kecil tata cara mandi menggunakan boneka? Kurang lebih sama kan?

Langkah

anak mandi dude

Biar si kecil lebih mudah dalam dalam melakukan self-bathing atau mandi sendiri, urutan yang tepat diantaranya:

1. Siapkan Peralatan Mandi

Pertama, sebelum masuk ke kamar mandi pastikan sabun, sampo, hingga handuk mudah untuk diakses si kecil. Jangan ragu juga untuk memberinya keranjang peralatan mandi agar ia bisa membawa peralatannya sendiri ke kamar mandi.

2. Melepas Pakaian

As always, buat semuanya menjadi menyenangkan. Contohnya seperti melempar pakaian ke dalam keranjang pakaian seperti sedang melakukan shot dalam basket. Kenapa tidak?

3. Masuk Ke Kamar Mandi

Ajarkan si kecil untuk selalu memperhatikan tonjolan di pintu menuju kamar mandi.

4. Membasahi Badan

Engga tiba-tiba terisi, biarkan si kecil mengisi ember dengan menghidupkan keran di dinding. Kalau pake water heater, instruksikan si kecil untuk selalu meminta bunda atau orang tua untuk melakukannya.

Ajarkan si kecil untuk memeriksa temperatur, apakah ia sudah cukup “hangat”, pas, atau terlalu panas.

Kalau di kamar mandi hanya ada gayung, biasakan si kecil untuk tidak selalu mengisi gayungnya penuh-penuh sampai ia sudah mampu melakukannya sendirian.

Tidak lupa, tegaskan anak untuk tidak bermain-main. Jangan siram hal lain selain tubuh apalagi main banjir-banjiran di kamar mandi. Pasti pada pengalaman kan? Hehe..

Setelah semuanya beres, ajarkan juga anak untuk mematikan keran secara mandiri.

5. Sampo

Ajarkan anak seberapa banyak shampo yang bisa digunakan dalam sekali mandi. Clue paling mudah dipahami mungkin, “Segini nih dek, sedikit aja”.

Selanjutnya gosok kepala dengan lembut. Kasih si kecil hitungan sederhana sebagai patokan, “Gosok kepalanya 10 kali yaa”. Jangan lupa untuk meningkatkannya untuk tidak dekat-dekat dengan mata.

6. Sabun

Setelah shampo, selanjutnya adalah sabun. Tergantung bagaimana bunda mengajarkan si kecil memakai sabun, mungkin pendekatan yang paling baik adalah memakai sabun dari atas ke bawah. 

Kenapa dari atas? Menurut penelitian, pendekatan yang satu ini sangat baik agar si kecil tidak lupa untuk membersihkan suatu bagian tubuh.

Di awal, membawa cermin mungkin bisa menjadi pilihan terbaik. Dengan cermin, si kecil bisa melihat seberapa banyak ia menggosok bagian tubuh dan berapa lama mereka menggunakan sabun.

Dan yaaaang paling banyak terlewat, adalah bagian belakang kuping. Seperti halnya sampo dan kepala, beri tahu seberapa banyak dan seberapa lama ia harus menggosok bagian tubuh tertentu.

7. Bilas

Ingat, seperti langkah pertama, tak perlu isi gayung sampai penuh. Untuk bilas sendiri, ingatkan si kecil bahwa “busa” yang menempel perlu “menghilang”. 

8. Mengeringkan badan

Hal pertama yang harus diingat adalah ukuran handuk. Beri si kecil handuk yang cukup besar untuk membalut badannya, tapi tidak terlalu besar sampai si kecil kesulitan untuk menggerakkannya. Seperti saat si kecil disabun, memakai handuk juga bisa menggunakan pendekatan yang kurang lebih sama. Alasannya, karena memang pendekatan yang satu ini akan lebih mudah untuk diingat. 

Mulanya, anak bisa diajarkan mandi dengan menuntun tangannya melakukan beberapa jenis gerakan membersihkan badan. Setelah beberapa kali percobaan, biarkan anak melakukannya sendiri lalu berkomunikasilah mengenai langkah-langkah yang harus ia lakukan, seperti “Yuk, waktunya pakai sabun”,”Kakinya yang satu lagi dibersihin juga dek”, dan terus perhatikan dia.

Jangan lupa feedbacknya yang friendly ya bun, contohnya “Itu baru 4 kali deh, kita harus gosok kaki 5 kali kan?”.

Setelah beberapa kali aktivitas mandi lainnya, bunda bisa memilih untuk sedikit menjauh dan cukup memberinya pengawasan di kamar mandi. Yaa, tetep aja sih harus terus memerhatikan si kecil.

Reminder juga baik untuk membantunya mandi loh bun, “Nah loh, setelah kepala selanjutnya apa?”, atau mungkin membantunya saat dalam bagian-bagian yang susah saja.

Di akhir, periksa bagaimana kinerja si kecil ketika ia bilang Selesai!

Mengajarkan Anak Perempuan Mandi

Oke, beda kasusnya kalau si kecil adalah perempuan. Orang tua ada baiknya mengajarkan anak perempuan untuk membersihkan bagian-bagian private dengan, sebagai awalan, menggunakan boneka.

lagi nyoo keran

Pertama, basahi area pribadinya, gosok sabun hingga menjadi busa pada tangan, lalu lakukan gerakan menggosok. Seperti biasa, awasi dan beri si kecil clue apabila dibutuhkan (“Ish, gosoknya dari depan ke belakang atau belakang ke depan?”)

Keamanan

Oke, kapan sih kita bisa meninggalkan anak untuk mandi sendirian?

  1. Pertama, tentu saat si kecil bisa mandi sendiri dengan aman. Ingat, dengan aman!
  2. Kedua, saat si kecil sudah bisa mandi dengan efisien, (tahu batas menggosok yang baik, mengerti cara mengeringkan badan dan selesai mandi dalam kurun waktu yang diharapkan)

Pastikan saat anak mandi, bunda atau siapapun itu yang bertanggung jawab berada dalam jangkauan pendengaran yang baik, dengan ini bunda bisa dengan mudah datang apabila si kecil membutuhkan bantuan.

Terakhir, selalu lengkapi kamar mandi dengan alat keselamatan seperti non-slip mats, atau hal sepele seperti letak sampo, sabun, atau handuk tanpa perlu jinjit atau naik ke atas sesuatu. Bunda ataupun orang tua pada umumnya juga bertanggung jawab terhadap kontrol water heater saat si kecil mandi apabila memang di kamar mandi tersedia water heater.

Tutup kata, mandi-mandiri seharusnya merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan untuk si kecil. Ingat, mandi-mandiri merupakan proses yang bertahap, jangan harap si kecil bisa langusng mandi dengan sempurna secara langsung; daripada memikirkan hal lain, fokuslah untuk mengajarkan anak cara mandi dengan aman dan baik. Tanpa bunda sadari, si kecil nantinya pasti sudah bisa mandi dengan sendirinya.