Flascokids – Memukul anak sering kali kita kaitkan dengan mengajari disiplin pada si kecil. Nyatanya, memukul anak memiliki dampak yang, bisa dibilang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

Ada beberapa hal yang musti kita ketahui terlebih dahulu sebelum melakukan aksi yang satu ini. Penasaran? Simak informasinya di bawah ini!

Yang Harus Bunda Ketahui Tentang Memukul Anak

Sederhana, memukul adalah bentuk hukuman fisik untuk si kecil. Sekilas, memukul anak memang terlihat bekerja karena setiap kali kita melakukannya, anak berhenti melakukan apa yang sedang mereka lakukan.

Tapi, Tapi nih bun… Untuk mengajarinya disiplin, memukul bukanlah opsi yang baik. Alasannya? Karena memukul tidak mengajarinya apapun, khususnya kontrol diri ataupun perilaku yang baik.

Biar lebih gampang untuk bunda ingat, ada tiga hal yang menjadi nilai minus dari aksi memukul anak ini.

  • Pertama, adanya resiko bunda menyakiti si kecil
  • Kedua, memukul anak hanya memberi si kecil pesan bahwa memukul orang lain merupakan perbuatan yang dapat diterima untuk mengatasi perasaan tak terbendung (khususnya marah atau tidak suka)
  • Ketiga, hukuman fisik seperti memukul si kecil bisa menyebabkan masalah jangka panjang pada perkembangan kesehatan anak. Rata-rata, anak yang sering dipukul (sebagai hukuman) cenderung lebih agresif dibanding anak yang jarang dipukul. Selain agresif, anak juga berkemungkinan memiliki perilaku yang cukup menantang hingga gejala kecemasan dan depresi

Sudah tahu kan kenapa memukul adalah opsi yang paling tidak recommended untuk mengajari disiplin? Ada cara yang lebih baik daripada memukul anak untuk mengajarkannya perilaku yang baik.

Alternatif Memukul

Cara terbaik untuk bunda menghindari situasi memukul adalah dengan menciptakan peluang untuk anak bersikap selayaknya.

ayah memarahi si kecil

Langkah pertama yang bisa bunda lakukan adalah dengan membuat rules di rumah. Aturan membuat si kecil mengerti akan perilaku apa yang bunda inginkan dan membantunya menghindari perilaku tercela yang tidak kita inginkan.

Selain rules, bunda juga bisa merencanakan hal yang harus bunda lakukan untuk mengatasi perilaku anak yang menyusahkan.

Contoh yang paling sederhana adalah ketika bunda ingin berbelanja bersama si kecil. Daripada harus berhadapan dengan situasi yang “waw” untuk bunda hadapi, alangkah baiknya bunda menunggu si kecil mendapat tidur yang cukup (artinya tidak kurang tidur) atau sebelum berangkat, si kecil sudah menyantap snack kesukaannya.

Langkah kedua adalah memerhatikan lingkungannya. Analogi yang tepat, barang yang mudah pecah ada baiknya kita pindahkan ke lingkungan yang lebih tenang agar tidak mudah retak.

Begitu juga dengan si kecil. Dengan mengubah lingkungan tempat anak bermain atau beraktivitas, bunda juga bisa mengubah perilakunya.

Terakhir, dan kadang, mengalihkan perhatiannya dalam situasi yang menyusahkan sudah cukup untuk mengurangi perilaku buruknya. Pilih opsi yang pas, hindari memukul si kecil.

Konsekuensi

Konsekuensi merupakan bagian yang esensial dalam menentukan batasan perilaku si kecil. Untuk anak pra sekolah atau anak sekolah, konsekuensi bisa menjadi opsi terbaik.

Konsekuensi hanya akan bekerja dalam kurun waktu yang panjang apabila diiringi dengan strategi positif agar si kecil berperilaku positif pula.

Konsekuensi sangat tidak direkomendasikan untuk anak kurang dari tiga tahun. Kenapa? Di umurnya yang belia, batita belum mampu memahami konsep sebab-akibat. Selain itu, anak juga belum mengerti perbedaan benar dan salah.

Jadi? Praktikanlah sistem ini hanya pada anak berusia di atas tiga tahun saja yaa bun…

Apa yang Anak Rasakan Saat Kita Memukul Mereka?

Saat berbuat kasar pada si kecil, acap kali apa yang coba kita isyaratkan kurang lebih seperti ini, ‘Yang kamu lakuin itu salah nak! Ngga Baik!’. Sayangnya, bukan ini yang diterima si kecil.

Anak yang kita pukul lebih cenderung berpikir bahwa apa yang coba kita sampaikan hanyalah, ‘Papah/Mamah marah sama kamu! Mamah/Papah ngga suka kamu!’.

Ngeri ngga tuh? Boro-boro mikirin apa yang salah dari perbuatannya, mayoritas anak lebih banyak merasakan takut, amarah atau bahkan sedih ketika mereka dipukul.

Mengatasi Frustasi, Amarah dan Rasa Stres Sebagai Orang Tua

Ngga melulu salah si kecil karena berbuat yang tidak baik, orang tua juga memiliki andil dalam siklus pukul-memukul ini.

Mengelola rasa kita sendiri merupakan hal yang penting sebagai bagian dalam menciptakan keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dan menjaga si kecil untuk tetap berprilaku baik.

Kalau nih yaa, bunda atau bapak tahu cara mengatasi perasaan frustasi atau marah dengan cara yang positif, misalnya dengan tetap kalem lalu mengambil nafas dalam-dalam, parents sudah memberinya contoh super baik dalam berperilaku!

Tapi kalau bunda cukup kesulitan mengatasi stres dan amarah bunda, dan bingung dengan apa yang harus dilakukan, tidak ada salahnya bunda searching atau berguru mengenai strategi mengatasi stres ataupun marah (stress management / anger management).

Terakhir, yang super-duper penting, apabila rasa bunda untuk memukul anak sudah tak tertahankan, letakkan si kecil di tempat yang aman (ranjang bayi misalnya), atau juga bisa dengan meminta seseorang untuk memegangnya sebentar.

Luangkan waktu sejenak sampai bunda merasa lebih tenang. Masuklah ke ruang lain, lalu tarik nafas dalam-dalam, atau curhatlah dengan anggota keluarga atau teman, keluarkan semua undek-undek bunda hingga semuanya terasa lebih lega.