Flascokids – Konsekuensi, secara definisi memiliki arti akibat, baik dari suatu perbuatan, pilihan, tindakan, atau keputusan seseorang. Konsekuensi tidak selamanya “negatif”. Ketika kasusnya “mengajarkan” konsekuensi pada anak, selalu ada batasan agar kita bisa berhati-hati mengelola konsekuensi.

Kenapa harus berhati-hati? Berbicara mengenai konsekuensi, tidak semua konsekuensi (biasanya yang berbentuk hukuman) itu berdampak positif pada si kecil. Jika tidak berhati-hati, bukannya menghentikan perbuatan buruk si buah hati, kita malah bisa jadi menambah keburukannya yang lain.

Konsekuensi seharusnya mengikuti beberapa prinsip yang mengikuti tujuan dan maksud awal adanya konsekuensi itu sendiri.

Prinsip #1 : Konsekuensi Pada Anak Harus Merugikan!

“Merugikan” tidak selalu berarti harus menyakiti fisik si kecil, apalagi sampai merampas masa depan anak. Merugikan disini, lebih ke konteks yang sederhana, artinya konsekuensi dapat memberikan perasaan negatif pada anak, agar si kecil bisa merasakan perasaan tidak nyaman akibat perbuatannya.

Ingat, akibat perbuatannya! Cara paling sederhana untuk melakukan hal ini adalah dengan mengambil atau mengurangi sebagian atau beberapa hak si kecil. Hak yang dimaksud adalah hak keseharian yang berkaitan dengan kenyamanan dan kesenangan anak.

Pilihan konsekuensi yang bisa merugikan anak (sesuai cara di atas) diantaranya:

  • Mengurangi uang saku,
  • Mencabut hak menonton TV, bermain Game, atau berselancar internet,
  • Mengurangi waktu bermain anak, dan
  • Konsekuensi universal: Isolasi

Ukuran merugikan anak yang satu dengan lainnya mungkin bisa berbeda satu sama lain. Sebagai orang tua, parents harus bisa meneliti konsekuensi mana yang tepat untuk si A dan si B. Bisa saja konsekuensi si A terasa tidak merugikan untuk si B, maupun sebaliknya.

Yang patut diperhatikan ketika mengajarkan konsekuensi pada anak adalah pengurangan hak yang dimaksud berkaitan dengan masalah kenyamanan dan kesenangan si kecil, bukan soal kebutuhan Hak Asasinya sebagai manusia. Parents tidak dibenarkan untuk:

  • Mengurangi jatah makan,
  • Mengurangi jatah minum,
  • Melarang anak untuk tidur, dsb.

Prinsip #2 : Konsekuensi Pada Anak Tidak Berbentuk Kebaikan

Berbentuk kebaikan? Macam apa tuh? Contoh yang sering kita jumpai adalah anak yang terlambat masuk kelas dihukum dengan merangkum buku, menulis berlembar-lembar, atau membaca Al-Quran misalnya. Konsekuensi seperti ini mungkin dapat bermanfaat untuk remaja, tapi belum tentu dimengerti oleh anak-anak.

Anak hanya bisa berpikir konkret, berbeda dengan remaja atau dewasa yang mulai memahami arti abstrak dari suatu hal. Contoh yang sering kita temui adalah ketika misalnya, kita mengatakan ini pada si kecil “Nak, kalau tante Ifi datang, bilang ya Mamanya lagi nggak ada!”.

Menurut parents, apa yang kemungkinan terjadi saat Tante datang? Sebagian besar, anak akan mengatakan “persis” seperti yang anda katakan “Tante, kata Mama kalau Tante datang, Mama nggak ada!”

Hal yang sama berlaku dengan konsekuensi, anak akan mencerna apa adanya. Dalam konsep berpikir anak, jika hukuman berbentuk kebaikan, maka “kebaikan” sama dengan “hukuman”. Bayangkan saja apabila parents berada di posisi si kecil:

Saat telat, parents dihukum untuk menghafal Al-Quran. Berkali-kali telat, yang terbesit di benak anda saat memikirkan hafalan Al-Quran pasti bergeser menjadi hukuman. Menghafal Al-Quran = Hukuman!

Maka dari itu, pikirkan lagi saat anda ingin menghukum si kecil. Anak tetaplah anak. Berikan anak konsekuensi sesuai dengan akibat langsung perbuatan mereka. Contohnya ketika mengotori lantai, anak harus membersihkan, ketika anak buang sampah sembarangan, anak harus membuang pada tempatnya.

Konsekuensi seperti ini adalah konsekuensi yang langsung terhubung dengan perbuatan si kecil. Apakah berbahaya? Misalnya jika anak menghilangkan barang temannya maka dia harus mengganti dengan miliknya?

Ini tidak berbahaya, karena sejatinya yang coba kita bangun di sini adalah tanggung jawab, bahwa mengganti barang yang hilang adalah bentuk tanggung jawab, bukanlah hukuman!

Prinsip #3 : Tidak Boleh Menyakiti Tubuh

Untuk yang satu ini, dengan alasan apapun, kekerasan fisik tidak akan pernah menghasilkan kebaikan. Kekerasan yang sering diterima anak dapat mengganggu perkembangan emosional dan mental anak.

Menurut studi dari Universitas Manitoba Kanada, hukuman fisik yang dilakukan pada anak dapat meningkatkan risiko timbulnya masalah depresi (49%), serta masalah penyalahgunaan alkohol serta obat-obatan sebesar 51%. Bahkan, 27% orang penderita gangguan mental ternyata pernah/sering mendapatkan perlakuan buruk (kekerasan) saat masih kecil.

konsekuensi-pada-anak--tidak-menyakiti-tubuh

Lalu, ada orang tua yang bersikukuh mengajarkan arti konsekuensi pada anak berdasarkan dalil agama. Dalil tersebut adalah mengenai perintah shalat pada anak:

Artinya : Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari datuknya berkata : Rasulullah SAW, bersabda : “ Suruhlah anakanak kecil kamu melakukan sembahyang pada ( usia ) tujuh tahun, dan pukullah mereka ( bila lalai ) atasnya pada ( usia ) sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur ”.

Coba kita telaah baik-baik.

  1. Hanya Pada Shalat, bukan pada perbuatan lain seperti menumpahkan makanan misalnya.
  2. Pukulan hanya diperbolehkan apabila anak berusia (minimal) 10 tahun! Zalim kalau orang tua berani melakukan kekerasan pada anak di bawah umur ini, apalagi pada anak BALITA!
  3. Setelah syarat anak berumur 10 tahun, anak dipukul jika tidak shalat “setelah” anak-anak diajari ketauhidan, Allah, Iman kepada Allah, Kepada Rasulnya dosa, malaikat, dsb. Hal yang berlebihan meminta anak mau begitu saja shalat ketika kita saja sebagai orang tua belum memprogram pikiran anak mengenai agama (Islam).
  4. Seberapa keras pukulannya? Menurut Syekh Bin Baz rahimahullah, pukulan yang dimaksud bahkan berupa PUKULAN ringan yang mendorongnya untuk taat kepada Allah serta membiasakan mereka untuk menunaikan shalat pada waktunya, agar mereka istiqamah di jalan Allah serta mengenal yang haq!

Prinsip #4 : Tidak Mempermalukan

Apa jadinya orang tua memarahi kita di depan teman-teman kita sendiri? Apa yang terbesit di benak parents saat mengalaminya? Pastinya merasa malu bahkan bisa berujung rendah diri kan?

Jika hukuman sampai mempermalukan anak, dalam diri si kecil akan muncul perasaan yang tidak sehat. Tindakan mempermalukan hanya akan menjustifikasi penilaian anak bahwa kita itu jahat dan tak adil.

Anak bisa saja melawan balik dengan amarah ataupun hal lainnya. Kembali ke konsep awal, hukuman sejatinya adalah bentuk ekspresi penolakan atas perbuatan anak. Hal tersebut merupakan tanda bahwa kita tidak setuju dengan perbuatannya.

Camkan baik-baik, hukuman tidak ditujukan untuk menghancurkan harga diri anak maupun menjadikan konsep diri anak menjadi negatif. Jangan pernah menghukum anak di depan teman-temannya!

Prinsip #5 : Menerapkan Konsekuensi Pada Anak Itu Bertahap

Ketika kita menemukan kesalahan si kecil, bukan berarti kita tiba-tiba langsung memberikan konsekuensi kepada anak seketika itu juga. Bisa jadi, saat anak melakukannya, anak belum mengerti bahwa perbuatan tersebut buruk dan baru paham saat parents memberikan penjelasannya.

Jika anda baru saja membuat kesepakatan batasan dengan anak, mungkin konsekuensinya baru bisa berlaku di waktu esok, pekan depan, atau bahkan bulan depan, yang pastinya bukan sekarang.

konsekuensi pada anak itu bertahap

Kita mencontoh saja pada penerapan hukum-hukum di awal Islam baru tumbuh, seperti pelarangan minuman keras misalnya, yang terimplementasi secara bertahap tidak secara langsung.

Selain secara bertahap, sesuaikan juga konsekuensi dengan tahap tumbuh kembang si kecil. Tidak adil jika menyamakan konsekuensi anak 7 tahun dengan 4 tahun.

Prinsip #6 : Jangan Berikan jika Anak Tidak Sengaja

Orang tua tidak sepantasnya memberikan konsekuensi berupa hukuman jika perbuatan anak yang menyebabkan kerugian terjadi karena ketidaksengajaan. Berbeda dengan orang dewasa, anak masih dalam tahap pertumbuhan, baik itu motorik maupun kognitif.

Katakanlah anak kita menjatuhkan sesuatu, apakah orang dewasa tidak menjatuhkan sesuatu? Anak memang lebih sering menjatuhkan sesuatu melebihi orang dewasa. Alasannya? Berkaitan dengan masalah koordinasi motorik anak yang masih belum sempurna.

bantu-saat-anak-tidak-sengaja-melakukan-kesalahan

Kalau sudah seperti ini, orang tua tetap memberikan konsekuensi. Tapi konsekuensi di sini bukan berupa hukuman, melainkan edukasi tanggung jawab kepada si kecil. Ada dua hal yang bisa anak lakukan.

  1. Meminta maaf. Yang satu ini, merupakan bentuk tanggung jawab yang sederhana.
  2. Melakukan tindakan konkret sesuai tingkat kerugian yang diakibatkan perbuatan si kecil. Contohnya jika si kecil menumpahkan minum, konsekuensinya membersihkan, jika si kecil memecahkan maka konsekuensinya membereskan barang tersebut dengan bimbingan orang tua.

Prinsip #7 : Berikan Setelah ada Kesepakatan/Sosialisasi

Analogi yang pas untuk mendeskripsikan prinsip yang satu ini adalah Rambu Lalu Lintas. Pengguna jalan tidak akan tahu di mana harus berhenti jika rambu larangan berhentinya saja tidak ada.

Hal yang sama berlaku saat kita mengajarkan konsekuensi pada anak. Si kecil tidak akan paham batasan mengenai suatu perbuatan jika ia tidak diberi tahu terlebih dahulu kalau perbuatan itu buruk. Asumsi bahwa anak-anak masih kecil lalu orang tua membiarkannya begitu saja juga merupakan sesuatu yang salah.

Bayangkan jika si kecil memukul anak lain berulang-ulang dengan alasan mereka masih kecil, lalu orang-orang membiarkan! Di masa depan, si kecil akan berpikir bahwa memukul itu boleh, buktinya orang-orang dewasa di sekitarnya membiarkan ia berbuat sesukanya.

Bukan hanya memukul, hal lain seperti merampas barang saudara jika orang tua biarkan akan berakibat buruk pada si kecil. Memang anak-anak masihlah kecil, tapi justru karena hal itulah orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membimbing anak dan membiasakan mereka berbuat baik dan menolak perbuatan buruk.

Konsekuensi baru boleh orang tua tegakkan jika orang tua sebelumnya memang sudah menyosialisasikan batasan perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Ada komunikasi sebelumnya antara orang tua dengan anak.

Oke itu dia bahasan mengenai prinsip “Mengajarkan Konsekuensi pada Anak” versi Flascokids. Jangan lupa jika ingin bertanya tulis di kolom komentar di bawah yaa, See You!