Flascokids Anak Sulit Konsentrasi? Pandangannya tidak tertuju pada pekerjaan atau mungkin si kecil malah tertegun dengan hal lain di sekitarnya? Anak yang sulit berkonsentrasi terkadang memang membuat orang tua frustasi. Bukan frustasi yang bersifat negatif alias kesal, lebih ke rasa khawatir apa yang sejatinya terjadi pada buah hati.

Bilang “Dek, dengerin ibu bicara!” mungkin bukan solusi yang tepat. Masalah anak tidak fokus itu terbagi menjadi dua, pertama anak memiliki durasi fokus yang singkat atau anak memang pada dasarnya bermasalah dengan fokus itu sendiri.

Ingatlah kalau fokus itu sebuah kemampuan. Yang namanya kemampuan, pasti bisa diasah selama kita sabar hingga akhirnya si kecil bisa mengembangkan kemampuan tersebut secara berkala.

Ada beberapa hal yang harus orang tua perhatikan saat anak sulit konsentrasi.

Melupakan Masalah Fokus Anak yang Sulit Konsentrasi

Sebelum mulai bertindak atau merespon, ingatkan diri kalau anakmu tidak memberimu waktu yang sulit, dialah yang sedang mengalami waktu yang sulit. Mengerti perbedaannya kan?

Anak Sulit Konsentrasi – Waktu yang Sulit

Bagian dari otak yang berhubungan dengan fokus belum sepenuhnya berkembang hingga di awal masa dewasa. Dan di anak yang lebih tua, situasi stressful, khususnya seperti pembelajaran sekarang ini bahkan bisa membuatnya kesusahan untuk fokus.

Daripada membentak agar anak bisa fokus pada pekerjaannya, cobalah teknik “Notice and Explore”. Apa lagi tuh? Teknik ini bermaksud untuk mengingatkan si kecil untuk fokus dengan memperhatikan terlebih dahulu apa yang sedang terjadi (Notice).

Ketika kita lebih paham dengan apa yang sedang si kecil hadapi, coba bertanyalah dengan nada berempati “Mamah lihat adek lagi kesulitan. Ada apa dek? Soal menghitungnya susah? Ada yang bisa Mama bantu?”

Memberitahu Jawaban Terlalu Cepat

Istilahnya, seperti memberi contekan pada siswa. Kita coba ibaratkan saja langsung dalam sebuah kasus. Contohnya seperti sekarang, anak lebih banyak belajar jarak jauh dibanding tatap muka.

Melihat anak malah membuka youtube ketimbang memperhatikan guru menjelaskan sesuatu di Zoom mungkin sedikit membuat orang tua frustasi. Meningkatkan suara anda dan mengakibatkan tuntutan bersifat stres hanya akan menghasilkan respon stres yang sama dari anak.

Daripada seperti itu, cobalah tarik nafas yang dalam, lalu bertanya “Bunda lihat adek lagi nonton Youtube. Gurunya ngga kelihatan loh, kemana ya? Menurut dede, gimana caranya bu guru kelihatan lagi disini? (sambil menunjuk layar)”

Ketahuilah kalau pertanyaan dapat mengembalikan fokus si kecil. Anak juga tidak akan bisa melakukan problem-solving apabila mereka sedang merasakan stres atau tertekan.

Terlalu fokus pada Pekerjaan

Kita tahu, libur panjang telah berlalu dan transisi menuju mode beraktivitas harus segera disiapkan. Tapi, seperti halnya “orang” pada umumnya, anak juga tetap membutuhkan break alias istirahat. Mulai dari sekarang, hilangkan mindset kalau anak harus mereplika waktu belajar full day sekolah di rumah.

Coba kasih anak gap waktu untuk keluar dari rasa bosan belajar seharian – dengan bermain. Untuk anak yang lebih muda (TK atau PAUD), permainan fisik dapat sangat membantu anak melepas penat dan stres, sehingga nantinya dapat juga meningkatkan fokus si kecil.

Secara ilmiah, ketika kita duduk seharian memperhatikan sesuatu yang membuat kita stres, hormon stres akan tumbuh dalam tubuh. Cara terbaik untuk memproses hormon tersebut adalah dengan bergerak.

Memberi Anak Terlalu Banyak Support

Seperti nomor 2, pernyataan di atas mungkin cukup untuk membuat dahi anda mengkerut. Pasalnya, apa yang salah dengan memberi anak dukungan? Oke-oke, mari kita bahas.

Memberi anak support atau dukungan bukanlah hal yang buruh, sebaliknya hal tersebut dapat membantu si kecil yang sedang bermasalah dengan fokus.

Tapi, ada kalanya dukungan dapat memberi dampak negatif pada anak, salah satunya ketika tersebut digelontorkan dalam dalam jumlah yang “terlalu” banyak. Definisi “terlalu” disini bisa bervariasi.

Menurut terapis asal Negeri Paman Sam, Marissa LaBuz, Orang tua yang over-focus pada pencapaian atau kegagalan anak (Helicopter Parenting) hanya akan membuat anak menjadi berkegantungan pada orang tua, hingga si anak tidak mau menyelesaikan pekerjaan atau permasalahan mereka secara mandiri.

Daripada membantu anak secara terus menerus tanpa mengindahkan potensi kemandirian si kecil, ada baiknya, berilah si buah hati instruksi secukupnya, lalu biarkan ia mengeksplor dan berinovasi dengan hal tersebut.

Disisi lain, beri juga si kecil alat atau medium untuk ia secara independen menyelesaikan pekerjaannya.

Memaksa Anak yang Sulit Konsentrasi, Fokus pada Hal yang kurang Mereka Sukai

Anak, akan kehilangan ketertarikan dengan cepat ketika sesuatu tidak sejajar dengan kemampuannya. Pernyataan tadi memiliki arti yang cukup banyak, salah satu analoginya adalah pembelajaran anak.

Ketika material pembelajaran anak kurang menantang, tidak ada salahnya kita bertanya atau meminta bantuan pada sang guru. Cari tahu apakah hal yang ditugaskan pada si kecil terlalu gampang atau mungkin terlalu susah.

Tujuannya adalah mencarikan si kecil sweet-spot yang bisa meng-engage kemampuan otak anak secara penuh. Apabila anda mengalami waktu yang sulit dalam hal parenting, jangan ragu untuk meminta bantuan!

Itu dia 6 Hal yang harus anda perhatikan saat Anak Sulit Konsentrasi. Apabila masih ada pertanyaan, jangan malu untuk tulis komen anda di bawah, flascokids undur diri, Semoga Bermanfaat!