Flascokids – Bunda khawatir si kecil mengidap gejala hiperaktif? Berikut ini, cara untuk mengenali gejala ADHD pada anak dan pertolongan yang bisa bunda lakukan untuk si kecil.

Buat bunda yang belum tahu, ADHD sendiri adalah istilah kelainan perkembangan saraf (bukan kelainan saraf yaa bun) yang biasanya muncul pada anak usia dini, terkhusus sebelum usia 7 tahun. Nah, kalau itu istilah secara medisnya.

Terus, apa efeknya untuk si kecil? ADHD membuat anak kesulitan untuk menahan respons spontan mereka – respon tersebut bervariasi mulai dari gerak tubuh, verbal (lisan) hingga perhatian.

Bunda ngga asing dong dengan anak yang susah banget diem, pandangannya seperti tidak mendengarkan apa yang bunda katakan, ngga mau mengikuti instruksi bunda ngga peduli seberapa jelas bunda menyajikannya untuk anak, atau bahkan mengeluarkan komentar-komentar tak layak di momen yang super-duper ngga banget.

Di masyarakat, anak-anak seperti ini sering kali dicap sebagai pembuat masalah (troublemakers). Tak jarang juga kadang anak seperti ini dikritisasi sebagai anak yang malas dan tidak disiplin. Tapi tahukah bunda, mereka yang tak mau diam ini mungkin mengidap ADHD.

Apa bedanya ADHD dengan Perilaku Anak pada Umumnya?

Oke, memang bukan hal yang mudah untuk membedakan ADHD dengan perilaku anak “pada umumnya”. Kalau bunda hanya menemukan tanda atau gejala di beberapa situasi tertentu, mungkin ia memang tidak mengidap ADHD.

Di satu sisi, kalau si kecil menunjukkan tanda dan gejala ADHD yang juga muncul dalam situasi yang bervariasi – baik di rumah, sekolah, ataupun saat bermain – waktunya bunda mendekati si kecil.

Tinggal bersama anak yang mengidap ADHD mungkin bisa membuat bunda kewalahan. Tapi sebagai orang tua, ada banyak hal yang bisa bunda lakukan untuk mengontrol gejala, mengatasi rintangan dalam kesehariannya serta membawa ketenangan tersendiri di tengah keluarga.

Nah, biar ngga susah membedakannya, ketahui beberapa mitos dan fakta mengenai ADHD:

Mitos dan Fakta mengenai ADHD
Mitos: Semua anak pengidap ADHD pasti hiperaktif!
Fakta: Beberapa anak yang mengidap ADHD memang hiperaktif, tapi sebagian khususnya mereka yang mengidap masalah perhatian, tidak selalu mengidapnya. Anak pengidap ADHD yang kurang atentif atau perhatian, tapi tidak terlalu hiperaktif, biasanya tampak tidak termotivasi dan kosong (pandangannya).
Mitos: Semua anak pengidap ADHD tidak bisa konsentrasi!
Fakta: Anak yang mengidap ADHD biasanya bisa berkonsentrasi pada aktivitas yang mereka sukai. Sayangnya, tak perduli seberapa keras si kecil mencoba, biasanya mereka berakhir kesulitan mempertahankan fokus tersebut khususnya ketika aktivitas terasa repetitif atau membosankan.
Mitos: Anak pengidap ADHD bisa berperilaku lebih baik kalau mereka mau!
Fakta: Percayalah kalau anak pasti berusaha yang terbaik untuk berperilaku baik, tapi kembali lagi, karena ini merupakan kelainan perkembangan saraf, si kecil pasti berakhir tidak bisa diam ataupun fokus. Dari luar, anak mungkin tampak sebagai anak yang ngga nurut, tapi bukan berarti ia memang sengaja melakukannya.
Mitos: Anak pengidap ADHD akan sembuh seiring pertumbuhan!
Fakta: Ngga! ADHD bisa berlanjut sama anak tumbuh dewasa, jadi jangan tunggu anak tumbuh untuk menyelesaikan masalah ini. Pengobatan (treatment) bisa membantu anak untuk mengontrol dan meminimalisir gejala.
Mitos: Obat-obatan merupakan treament terbaik untuk mengatasi ADHD!
Fakta: Medikasi atau obat memang terkadang diresepkan untuk mengatasi kelainan perhatian anak, tapi treatment ini mungkin bukan yang terbaik untuk anak. Pengobatan terbaik untuk mengatasi ADHD terletak pada edukasi, terapi perilaku, dukungan di rumah dan sekolah, latihan dan nutrisi yang tepat.

ADHD itu seperti apa sih?

Saat orang menggambarkan kelainan perhtian (attention deficit disorder), yang terbesit di benak mereka biasanya adalah anak yang tidak bisa diam, yang selalu mengganggu orang di sekitarnya.

Tapi realitanya lebih kompleks dari yang bunda bayangkan. Sebagian anak pengidap ADHD memang hiperaktif, tapi sebagian lainnya mungkin hanya anak pendiam yang pikirannya selalu berlari entah kemana.

Beberapa dari mereka terlalu fokus pada suatu kegiatan dan berakhir kesulitan untuk melakukan hal yang lain. Sementara yang lain tampak sedikit kurang memperhatikan, tapi super-duper impulsif.

Tanda dan gejala anak pengidap ADHD bergantung pada karakteristik mana yang mendominasi. Anak pengidap ADHD mungkin:

  • Inattentive (Kurang memperhatikan), tapi tidak hiperaktif atau impulsif
  • Hiperaktif dan Impulsif, tapi mampu fokus dan memperhatikan
  • Gabungan dari inattentive, hiperaktif, dan impulsif (poin ini merupakan bentuk umum dari ADHD itu sendiri).

Realita yang ada di masyarakat, anak yang mengidap gejala Inattentive atau kurang memperhatikan biasanya terabaikan karena memang mereka tidak berlaku impulsif (menjadi impulsif adalah ketika seseorang bertindak berdasarkan instingnya).

Namun, gejala yang satu ini mempunyai konsekuensi, biasanya berupa pertikaian (umumnya masalah) dengan orang tua atau guru karena tidak mengikuti arahan mereka; memiliki kinerja yang kurang baik di sekolah; hingga bertengkar dengan teman karena bermain tidak mengikuti aturan.

Mengenali ADHD berdasarkan Usia

Di umur berapa sih kita ‘mendeteksi’ gejala ADHD? Karena dari awal kita memang sudah punya anggapan kalau anak pasti mudah teralihkan perhatiannya dan juga hiperaktif, perilaku impulsif seperti memanjat atau spontanitasnya dalam berkomentarlah yang mudah kita kenali pada anak prasekolah pengidap ADHD.

Barulah di usia 4 atau 5 tahun, anak mulai belajar untuk memperhatikan seseorang berbicara, duduk ketika diminta, dan tidak mengucapkan semua yang terlintas di kepalanya. Saat anak masuk masa sekolahlah, perilaku ADHD akan menonjol dalam 3 bentuk kelainan: kurang memperhatikan, hiperaktif, dan impulsif.

Membantu Anak Yang Mengidap ADHD

Mau semua gejala yang si kecil idap berasal dari ADHD atau tidak, pada akhirnya gejala tersebut bisa melahirkan banyak masalah kalau bunda biarkan begitu saja.

Anak yang tidak bisa berkonsentrasi dan tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri biasanya akan bermasalah di sekolah. Mereka juga mendapat banyak masalah, hingga kesulitan untuk hidup berdampingan dengan seseorang ataupun teman.

Rasa frustasi yang juga lahir dari masalah ini bisa-bisa menurunkan kepercayaan diri serta membuat keluarga stres dan terpecah.

Treatment yang baik bisa menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam penanganan gejala anak. Ketika si kecil berjuang menangani gejala yang (kurang-lebih) mirip dengan ADHD, ngga perlu nunggu bantuan profesional.

Bunda bisa mengobati gejala ADHD si kecil (hiperaktif, perilaku impulsif, dan kurang perhatian) tanpa perlu diagnosa ADD. Mulailah dengan mengajak si kecil terapi, menerapkan diet yang lebih baik serta olahraga, dan atur lingkungan rumah sedemikian rupa untuk meminimalisir distraksi pada si kecil.

Kalaupun bunda menerima hasil diagnosa ADHD si kecil, bunda bisa bekerja sama dengan dokter, terapis, ataupun pihak sekolah untuk membangun rencana pengobatan khusus yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Treatment yang efektif untuk mengatasi ADHD anak terdiri dari terapi perilaku anak, pelatihan dan edukasi orang tua, dorongan sosial, serta bantuan dari sekolah. Obat-obatan memang mungkin digunakan, tetapi ia tidak menjadi treatment utama untuk menangani ADHD.