Flascokids – Perilaku bullying masih marak terjadi di Indonesia. Memang, di masa pandemi seperti ini dan dengan liburnya sekolah, kasus bullying menurun secara drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tetapi, masih ada ancaman lain yang tentunya serupa dengan yang kita kenal dengan sebutan bullying.

Mau tahu informasinya? Simak aja langsung di bawah yaa!

Mengenal Perilaku Bullying?

Istilah bullying memang lebih familiar dibanding versi indonesianya yaitu “penindasan/risak”. Definisinya kurang lebih sama, yaitu segala bentuk kekerasan yang satu atau sekelompok orang lakukan dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus-menerus.

Kata kuncinya ada empat: kekerasan, satu atau sekelompok orang, untuk menyakiti, dan dilakukan secara terus-menerus.

Pembulian dapat meninggalkan efek yang membekas pada hidup anak. Anak akan merasa takut dari waktu ke waktu. Kemanapun anak pergi, ia akan khawatir dengan apa yang akan terjadi ketika pembuli datang.

Jenis-Jenis Bullying

perilaku bullying

Bullying sendiri sebenarnya bisa kita klasifikasikan menjadi 3 jenis:

  • Pembulian fisik, seperti memukul, menendang, atau mendorong (atau bahkan mengancam melakukan ketiganya), serta mencuri, menyembunyikan, atau merusak barang anak. Orang bisa melihat jenis penindasan ini karena adanya kontak fisik antara pelaku dengan korban
  • Bullying verbal (melalui indera pendengaran), seperti menggoda, mengejek, menghina, atau melecehkan anak secara verbal
  • Bullying relasi, seperti menolak untuk berbicara pada anak, mengasingkan si kecil dari grup ataupun aktivitas tertentu, menebar fitnah mengenai anak, atau memaksa si kecil melakukan hal yang tidak ia inginkan.

Anak laki-laki kerap kali melakukan perilaku bully menggunakan fisik, baik secara langsung ataupun dalam bentuk ancaman. Sebaliknya, anak perempuan lebih mungkin melakukan bullying dalam bentuk verbal atau relasi. Meski begitu, mau apapun bentuknya, bullying tetap tidak mempunyai tempat di masyarakat.

Bagaimana dengan Cyberbullying?

Teknologi ngga sepenuhnya membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Sebaliknya, masalah juga bisa timbul karena adanya teknologi. Seperti yang bisa kita amati dari maraknya perilaku “Cyberbullying” yang benar-benar super-duper banyak kita temui di media sosial.

Terus apa bedanya bullying dengan cyberbullying? Berbeda dengan bullying, cyberbullying bisa terjadi dimana saja, bahkan di rumah, tempat anak biasanya merasa lebih aman, hanya dengan bermodalkan smartphone, internet, dan media sosial. 24 Jam!

Konsepnya kurang lebih sama, cyberbullying memanfaatkan teknologi untuk mengganggu, mengancam, atau menghina (merendahkan) seseorang. Berbeda dengan bullying “tradisional”, cyberbullying tidak memerlukan kontak secara langsung.

Bagaimana Bentuk Bullying maya ini? Contohnya terhitung sangat bervariatif, mulai dari mengirim pesan ancaman atau ejekan melalui social media atau email (kebanyakan sih medsos yaa bun) hingga mencuri identitas online anak untuk melukai dan merendahkannya.

Bahkan beberapa cyberbullies tidak ragu-ragu untuk membuat website atau media sosial hanya untuk mencemooh anak.

Seperti halnya bullying “tradisional”, cewek dan cowok juga sama-sama melakukan cyberbullying. Yang jadi pembeda adalah metodenya. Anak laki-laki cenderung melakukan yang namanya “sexting”, suatu bentuk penindasan dengan mengirim pesan berbau seksual dan pesan berupa ancaman fisik dan sejenisnya.

Di sisi lain, anak perempuan biasanya melakukan perilaku ini dengan menyebarkan ragam tipu daya atau kebohongan, rahasia pribadi atau bahkan mengasingkan seseorang dari grup di media sosial dan sejenisnya.

Karena cyberbullying sangat mudah untuk dilakukan, seorang anak atau remaja bisa saja berubah peran dari yang tadinya “korban”, dalam satu titik bisa berubah menjadi pembuli dan kembali menjadi korban dan seterusnya.