Flascokids – Menjengkelkan memang, ketika si kecil tidak mau berhenti menangis. Saat bayi menangis, bunda mungkin khawatir kehilangan ketenangan bunda, takut ada yang salah, dan lain sebagainya.

Hal lain yang mungkin terbesit di benak bunda adalah kekhawatiran kalau skill parenting bunda belum memadai untuk bisa menghandle situasi tersebut. Tapi bunda pasti bisa mengatasinya!

Kenapa Bayi Menangis?

Ada banyak alasan kenapa si kecil menangis, tapi salah satu yang patut bunda ingat adalah, menangis merupakan caranya untuk berkomunikasi. Menangis merupakan satu-satunya cara untuk si kecil menarik perhatian bunda dan mengekspresikan keinginannya.

Di fase-fase awal, apalagi buat ibu yang baru melahirkan, bukan perkara yang mudah untuk mengartikan ragam tangisan si kecil. Tapi seiring berjalannya waktu, bunda pasti terbiasa dan semakin mahir dalam mengenali dan memenuhi keinginannya.

Di bawah ini, ada beberapa alasan kenapa bayi menangis:

  1. Ngantuk dan capek
  2. Popoknya basah
  3. Lapar
  4. Stimulasi berlebih dari bising dan aktivitas di sekitarnya
  5. Alergi terhadap makanan
  6. Sakit
  7. Takut atau gelisah terhadap orang asing (buat dia).

Pertanyaan lain yang mungkin hinggap di kepala bunda, adalah apakah si kecil emang “masa bodo” alias tidak responsif?

Mayoritas bayi menggunakan tangisan untuk berkomunikasi dan tidak akan berhenti sampai orang tua atau pengasuh memenuhi atau minimal merespon keinginannya. Sebagian yang lain, bukannya menangis malah berbalik marah dan diam (kalau sundanya mah “baeud” bun) hingga akhirnya gagal menunjukkan perasaannya.

Nah loh. Kalau bunda pikir-pikir lagi, pasti ngga asing dong dengan kasus di atas? Bahkan sebagian dari kita yang udah dewasa terkadang berperilaku seperti itu ketika dihadang kesulitan.

Bayi yang tidak responsif mungkin tampak seperti bayi yang penurut. Tapi, bayi yang tidak merespon apapun yang kamu atau lingkungan berikan, mungkin benar-benar membutuhkan bantuan. Apalagi ini terjadi, hubungi segera dokter anak bunda yaa!

Mengatasi Bayi Yang Tidak Responsif dan Sering Menangis

Bunda menyadari kalau bayi yang satu dengan lainnya pasti berbeda satu sama lain. Tapi, realitanya masih tetap bisa menjadi pukulan telak, terlebih ketika bunda mendengar orang tua lain berkicau mengenai betapa mudahnya anak mereka tidur dengan damai menjelang malam.

Belajar dari sana, alangkah baiknya bunda menghindari perbandingan macam kasus di atas atau ekspektasi berlebih yang lain. Alasannya, karena hal tersebut hanya melahirkan perasaan negatif terkhusus apabila bunda memiliki bayi yang cukup “menantang” alias challenging.

Untuk situasi-situasi yang stressful, seperti ketika si kecil tidak mau berhenti menangis atau tidak merespon pada bunda, dan juga ketika bunda merasa frustasi, capek, dan marah – bunda perlu meracik strategi khusus untuk mengatasi diri.

Ketika tenang, bunda bisa dengan lebih baik mencari tahu apa yang terjadi dengan si kecil dan cara untuk menenangkannya.

Kondisi Mental Bunda

Berikut ini, ada beberapa hal yang musti bunda perhatikan berkenaan dengan kondisi mental bunda ketika menghadapi tangisan anak:

Ketahui batasanmu. Kenali tanda-tanda apabila bunda kewalahan. Lebih cepat bunda menemukan limit bunda, akan semakin mudah pula bunda menyiasati rencana, untuk support, break atau istirahat, refreshing, atau curhat dengan suami ataupun teman dekat. Langkah ini bisa membantu bunda membangun kondisi mental yang baik dalam merawat bayi.

Waktu. Mayoritas, tangisan bayi memuncak hingga 6 minggu dan secara bertahap akan mereda. Intinya, bunda tak perlu khawatir tangisannya takkan berhenti. Bertahanlah dan semuanya akan menjadi lebih baik.

Cari support. Apabila memungkinkan, mintalah bantuan di waktu-waktu tersibuk bunda. Jangan tolak bantuan seseorang untuk, misalnya membantu pekerjaan rumah, memasak, atau mengasuh si kecil. Berbaurlah dengan sekelompok bunda-bunda lainnya dan keluarlah dari rumah apabila sempat. Sadar akan adanya backup dari orang di sekitar bisa menciptakan perbedaan yang kentara.

Tak perlu sempurna. Parenting ngga melulu soal kesempurnaan. Ngga mungkin juga, bunda bisa hadir menemani si kecil, terus memerhatikannya, terkhusus untuk bayi yang menangis, hampir 24 jam per hari. Para ahli menaksir, memenuhi setidaknya sepertiga kebutuhan bayi setiap harinya sudah cukup untuk membangun bonding yang sehat dengan si kecil. Jangan paksa diri melakukannya seharian. Alangkah baiknya, cobalah untuk relaks dan nikmati waktu bunda ketika si kecil sedang tidak menangis.

Tips Menenangkan Bayi

Berikut ini, ada beberapa tips yang bisa bunda gunakan untuk menenangkan bayi yang sedang menangis. Mungkin akan membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi dengan terus berlatih bunda pasti tahu tips mana yang bekerja untuk si kecil dan mana yang tidak:

  • Bedong si kecil. Oke, siapa sih yang ngga tahu cara membedong anak? Gunakan selimut atau kain bedong yang lebar dan tipis untuk membantunya merasa aman.
  • Pangku anak untuk membantu pencernaannya dengan posisi anak menyender ke sisi kiri badan. Usap dengan lembut punggungnya. Apabila si kecil tertidur, ingat selalu untuk baringkan ia di tempat tidur dalam posisi terlentang.
  • Putar suara atau lagu yang menenangkan. Suara yang mengingatkannya ketenangan ketika di dalam rahim bisa membantu, seperti senandung hingga rekaman suara detak jantung.
  • Gendong bayi dan bergeraklah dengan lembut. Seperti step sebelumnya, gerakan yang menenangkan dapat mengingatkan bayi gerakan saat berada dalam rahim.
  • Hindari memberi makan anak secara berlebihan karena hal tersebut dapat membuatnya tak nyaman. Cobalah untuk menunggu 2 hingga 2,5 jam pada sesi awal menyusui menuju sesi selanjutnya.
  • Jika bukan saatnya untuk si kecil menyusui, tawari ia dot atau bantulah si kecil menemukan jarinya. Banyak bayi akan lebih tenang ketika menyedot sesuatu.
  • Apabila sensitifitas makan merupakan penyebab ketidaknyamanannya, perubahan pada pola makan si kecil pasti membantu.
    • Untuk bayi menyusui, bunda bisa mencoba mengganti diet si kecil dengan mengurangi produk susu untuknya. Apabila tidak ada perbedaan, lanjutkan perubahan tersebut.
    • Untuk bayi yang diberi susu botol, tanya dokter apabila si kecil bisa mencoba formula lain. Hal ini telah terbukti membantu untuk sebagian anak.
  • Tulis catatan untuk mengingat kapan si kecil terbangun, tertidur, makan dan menangis. Ingat juga berapa lama anak makan atau menangis. Konsultasilah pada dokter mengenai kebiasaan si kecil untuk memastikan adanya masalah, berhubungan dengan pola tidur atau makannya.