Capek-Capek Sarjana Kok Malah Jadi Ibu Rumah Tangga?

Capek-Capek Sarjana Kok Malah Jadi Ibu Rumah Tangga?

Flascokids – Kisah lama, tapi masih terngiang-ngiang di benak saya ketika dulu mengunjungi acara pernikahan teman. Saat duduk di kursi tamu, tak sengaja saya dengar percakapan ibu-ibu di depan saya. Banyak yang menyayangkan sang mempelai wanita yang seorang sarjana memilih menjadi seorang ibu rumah tangga.

Berdasarkan pengamatan saya, saat ini memang banyak sekali wanita yang berkarir di luar sana. Meski begitu, bukan berarti tidak banyak juga yang memilih untuk menjadi seorang housewife. Nah, ini dia yang selalu menjadi bahan nyinyiran orang-orang.

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Jadi perempuan di lingkungan super patriarkis memang sangat menyebalkan. Milih berkarir dikomen, memilih jadi ibu rumah tangga malah diperdebatkan. Terus maunya apa?

Little did they know, ilmu yang seorang gadis dapat dari kuliah juga bisa kita terapkan dalam rumah tangga. Saat ini banyak yang menganggap menjadi housewife adalah pekerjaan remeh. Apalagi, ada pula anggapan bahwa tidak perlu berpendidikan tinggi kalau hanya untuk mengurus rumah tangga, anak, dan suami.

Jika ada dari kalian yang bertanya “Sarjana jadi Ibu rumah tangga, apa salahnya?” Dengan lantang akan saya jawab “Nggak ada salahnya!”. Menjadi housewife adalah pekerjaan yang paling mulia.

Menjadi seorang housewife bukan persoalan yang gampang. Berkarir di kantor tidak ada apa-apanya jika kita bandingkan dengan menjadi ibu rumah tangga. Jika di kantor ada jam kerjanya, tidak ada istilah jam kerja untuk seorang housewife. Jika kantor hanya membutuhkan satu atau dua keahlian, lain halnya dengan housewife yang harus mempunyai berbagai keahlian dan keterampilan.

Posisi housewife memiliki banyak peran penting bagi keluarganya. Mereka harus dapat berperan sebagai bendahara, dokter, koki, asisten rumah tangga, guru dan masih banyak lagi.

Menjadi seorang IRT adalah pilihan yang harus kita hormati. Mereka tak kalah mulianya dibanding para pekerja dan tak kalah hebat dibanding wanita karir. Wanita tidak harus bekerja, tapi mereka sangat dituntut untuk menjadi sekolah pertama terbaik untuk si kecil. Wanita menimba ilmu di pendidikan tinggi bukan hanya untuk mencari pekerjaan atau berkarir, tapi juga untuk mendidik anaknya.

Kesimpulan

Bukan untuk membela IRT, ngobrolin pilihan itu adalah hak mereka sendiri dan bukan pula hak orang lain untuk melarang mereka menjadi ibu rumah tangga. Bagi kalian para wanita bergelar sarjana yang sedang bekerja, kalian hebat. Dan bagi kalian para wanita yang memilih jadi housewife padahal juga sarjana, kalian juga hebat. Kalian semua hebat, jadi jangan mempedulikan omongan orang. Mereka cuma ngiri dengan kehebatan kalian aja! (Source: here)