Bingung Kenapa Anak Tidak Mau Mendengar Bunda? Ini Dia Jawabannya!

Bingung Kenapa Anak Tidak Mau Mendengar Bunda? Ini Dia Jawabannya!

Flascokids – Apakah anak tidak mau mendengar apa yang bunda katakan atau bahkan secara terang-terangan tidak menghiraukan bunda sama sekali? Apakah bunda harus mengulang ini dan itu hingga bunda sendiri capek dan jengkel dengan si kecil?  

Apabila bunda bingung kenapa anak tidak mau mendengar, berikut ini merupakan beberapa alasan yang mungkin terjadi dan beberapa tips untuk menanganinya!

Bunda Terlalu Banyak Bicara

Stay brief alias jangan bertele-tele dan tetap berpegang pada satu poin yang ingin bunda sampaikan bisa menjadi senjata yang ampuh ketika berkomunikasi dengan anak.

Menumpahkan beragam hal untuk anak lakukan, seperti mengerjakan pekerjaan rumah atau mengingatkan si kecil berbagai hal ketika bersiap-siap ke sekolah, bisa membuat anak kebingungan mengingat hal yang harus mereka lakukan.

Begitu juga ketika bunda memakai bahasa yang tidak sesuai dengan usianya (istilah-istilah kompleks) serta bertele-tele dalam menjelaskan suatu hal. Kedua hal tadi hanya makin memperkeruh pesan yang ingin bunda sampaikan.

Singkat, padat, jelas dan spesifik sangat penting bagi anak-anak yang cenderung memiliki rentang perhatian yang pendek.

Si Kecil Sedang Fokus Pada Hal Lain

Seringkali, anak sangat berkonsentrasi pada sesuatu yang mereka lakukan, mau itu menonton acara favorit atau film, hingga pada titik tidak mendengar bunda sama sekali. Anak-anak, seperti halnya orang dewasa, bisa benar-benar asyik pada suatu hal.

Cobalah lihat sisi positifnya (si kecil membangun keterampilan konsentrasinya) dan mintalah perhatian penuh dengan pergi kepadanya dan berbicara dengannya secara tatap muka.

Beri anak waktu untuk bertransisi dari aktivitas yang tengah sibuk ia lakukan dengan apa yang bunda minta.

Anak Sedang Melakukan Hal Lain

Yang satu ini kadang terjadi — bunda sibuk menyiapkan makan dan ingin mengingatkan anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya lalu bunda berteriak kepadanya dari seberang ruangan atau di seberang rumah.

Tetapi jika memungkinkan, cobalah untuk membiasakan diri pergi kepadanya dan berbicara dengannya secara langsung. Kemungkinan anak mendengarkan bunda meningkat secara tajam jika bunda memperhatikannya ketika membuat permintaan.

Bilang Tanpa Perlu Meminta

Ada garis tipis antara blak-blakan bilang, “Ambil mainannya sekarang!!” dengan kalimat “Bisa ambil mainannya ngga dek?”. Condong pada satu di antara keduanya hanya meninggalkan hasil yang sama, yaitu anak tidak mau mendengar.

Salah satu kesalahan awam yang sering orang tua lakukan ketika memberi instruksi pada anak adalah meminta bukannya menyuruh si kecil. Ketika bunda meminta anak untuk melakukan sesuatu, secara tidak langsung bunda menyiratkan kalau si kecil punya kesempatan untuk bilang “Nggak mau”.

Bunda Ngga Konsisten

Ketika bunda menyuruh anak untuk membereskan mainannya berkali-kali tapi tidak dibarengi dengan konsekuensi, kemudian si kecil mengabaikannya, bunda secara terang-terangan hanya mengajarkan si kecil cara mengabaikan bunda.

Bunda Hanya Mengkritiknya Saja

Enak ngga sih ketika bunda kena sembur kritik dan bunda mau ngga mau harus memerhatikan apa yang diucapin orang tersebut? Hal yang sama berlaku pada si kecil.

Apabila bunda secara terus-menerus memberikan aura negatif seperti bilang, “Bunda bingung banget kenapa adek ngga mau dengerin bunda!”, secara natural, yaa anak juga akan mengabaikan bunda.

Anak Tidak Makan Seperti Biasanya? Ikuti Tips Berikut Ini!

Anak Tidak Makan Seperti Biasanya? Ikuti Tips Berikut Ini!

Flascokids – Banyak parents yang khawatir apakah si kecil sudah makan makanan sehat yang cukup atau tidak. Anak tidak makan seperti biasanya, rewel dengan makanannya, atau bahkan makan dalam jumlah yang super mini memang lazim kita temui pada fase ini.

Pada balita, semuanya terjadi karena beberapa alasan:

  • Nafsu makan anak bervariasi tergantung pertumbuhan dan variasi aktivitas yang ia lakukan.
  • Balita tidak tumbuh secepat bayi, sehingga mereka membutuhkan makanan yang lebih sedikit.
  • Balita memiliki perut kecil.
  • Karena anak memang sedang dalam fase eksplorasi, mereka memiliki rentang perhatian yang pendek, salah satunya terhadap makanan.
  • Balita ingin mendorong batasan diri dan menunjukkan seberapa mandiri mereka sendiri.

Yang perlu bunda tahu, anak bisa menyukai satu jenis hidangan hari ini dan berbalik menolaknya di kemudian hari. Perilaku itu memang sudah biasa. Ia juga anak jadikan bukti seberapa mandirinya mereka.

Cara Menangani Nafsu Makan Anak Yang Naik Turun

Jika si kecil tidak mau makan atau tidak makan makan sampai habis, bunda bisa mencoba mengurangi porsi makannya. Normal bagi balita untuk hanya membutuhkan porsi kecil saat makan.

Jangan lupa, hindari memaksa anak untuk menyelesaikan semua yang ada di piring, karena hal ini hanya membuat waktu makan menjadi stres. Sebaliknya, pujilah si kecil karena berani mencoba sesendok atau minum air, jika hanya itu yang mereka inginkan.

Pada waktu-waktu lain di antara waktu makan, bunda dapat menawarkan camilan sehat pada si kecil. Dengan ini, anak akan tetap bertenaga meski hanya makan dalam jumlah yang kecil.

Selama bunda menawarkan makanan sehat, tak perlu khawatir jika si kecil tidak makan sebanyak biasanya. Anakmu ngga akan kelaparan. Anak-anak sebenarnya sangat pandai menilai berapa banyak makanan yang mereka butuhkan.

Daripada menilai seberapa besar nafsu makannya hari ini, cobalah ganti formatnya menjadi seberapa besar nafsu makannya minggu ini. Tak apa-apa jika si kecil makan lebih sedikit hari ini – ia mungkin akan lebih lapar di kemudian hari.

Tips Mencoba Hidangan Baru Untuk Si Kecil

Bunda mungkin berpikir kalau si kecil memang pada dasarnya rewel dan hanya ingin makan satu atau dua makanan tertentu saja.

Tapi, kadang-kadang balita akan mencoba makanan baru jika bunda terus mencobanya. Berikut ini, beberapa ide yang mungkin bisa membantu:

Ciptakan Lingkungan Makan Yang Positif

  • Jadikan waktu makan bersama sebagai acara (keluarga) yang teratur dan menyenangkan. Duduk dan makanlah bersama si kecil setiap kali ada kesempatan.
  • Tunjukkan padanya betapa bunda menikmati makanan yang telah disiapkan.
  • Libatkan anak dalam membantu mempersiapkan dan memasak makanan keluarga.
  • Tawarkan hidangan baru ketika bunda dan si kecil santai, dan anak tidak terlalu lelah atau terganggu oleh hal-hal lain.
  • Tetapkan batas waktu sekitar 20 menit untuk makan. Jika si kecil belum makan sedikit pun, bawa pergi makanan yang ia abaikan dan jangan tawarkan makanan ringan atau makanan alternatif.
  • Hindari menghukum si kecil karena menolak mencoba makanan baru. Hal ini dapat mengubah pandangannya dalam mencicipi hidangan baru sebagai hal yang negatif.
  • Hindari menghadiahi anak hanya agar mereka mau makan makanan yang sehat. Hal ini dapat membuat si kecil jauh lebih tertarik pada hadiah daripada makanan sehat, dan memperkuat pesan bahwa makan makanan sehat adalah tugas rumahan pada umumnya (seperti ngepel).

Sajikan Hidangan Baru

  • Terus tawarkan si kecil makanan baru. Anak-anak membutuhkan 10-15 percobaan untuk menerima dan menikmati makanan baru.
  • Sajikan si kecil makanan yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Anak akan mendapatkan manfaat nutrisi dari berbagai makanan, dan menerima selera dan tekstur baru sebagai hal yang ‘normal’.
  • Tawarkan makanan baru dari (bahan) hidangan yang sudah diketahui dan disukai anak.
  • Jika si kecil menolak sesuatu, cobalah tawarkan lagi dalam seminggu atau lebih. Minat makan anak pada makanan dapat berfluktuasi dengan cepat.

Ikuti Apa Yang Si Kecil Inginkan

  • Biarkan anak menyentuh, menjilat, dan bermain dengan makanan, dan jangan aneh kalau semuanya akan terlihat berantakan seiring ia belajar makan
  • Biarkan anak makan sendiri, dan beri si kecil bantuan jika diperlukan.
  • Jika anak kehilangan minat, atau tampak lelah, rewel atau tidak sehat, ambil makanannya.

Setelah bunda menemukan hidangan yang disukai anak, akan menjadi hal yang cukup menggoda untuk terus menyajikannya.

Tetapi, anak perlu makan berbagai macam makanan untuk mendapatkan semua nutrisi yang mereka butuhkan dalam fase pertumbuhan dan perkembangan. Jadi, penting untuk terus menawarkan si kecil ragam hidangan yang berbeda.

Tawarkan berbagai makanan bergizi sesuai ketentuan empat sehat lima sempurna yang kita kenal. Cobalah berkreasi – tunjukkan kepada si kecil bahwa bunda bersedia memasak hidangan baru dan siap untuk menikmatinya juga.

Makanan keluarga yang sehat dan lingkungan makan yang mendorong sikap positif terhadap makanan sehat merupakan awal yang bagus untuk tumbuh kembang si kecil.

Bingung Mengajarkan Anak Tidur Di Kamar Sendiri? Ikuti Tips Berikut Ini!

Bingung Mengajarkan Anak Tidur Di Kamar Sendiri? Ikuti Tips Berikut Ini!

Flascokids – Sebagian anak memang tumbuh dengan tidur bersama orang tua. Kebiasaan ini ngga serta-merta menghilang ketika ia tumbuh besar. Mengajarkan anak tidur sendiri mungkin bisa jadi mimpi buruk baru buat bunda.

Engga se-horror itu sih, tapi bagi sebagian (dari kita), kena sikut di muka atau tendang di wajah memang bukan hal yang “kondusif” saat istirahat malam. Membiarkan anak tidur bersama juga bisa memengaruhi hubungan bunda dengan pasangan.

Meyakinkan anak untuk tidur sendiri bisa jadi tantangan tersendiri. Antara si kecil menolak untuk tidur di kamarnya atau berakhir mengendap-endap ke kamar bunda di tengah malam. Anak yang seperti ini, biasanya teguh dengan pendiriannya.

Untungnya nih bun, ada beberapa tips yang bisa bunda lakukan untuk membiasakan si kecil tidur sendiri. Penasaran? Check tipsnya berikut ini!

Buat Kamar Si Kecil “Sleep-Friendly”

Sebelum bunda mengajak anak untuk belajar “uji-nyali” di kamar, pastikan dulu kamarnya sleep-friendly. Kamar yang menenangkan dapat menurunkan rasa takutnya dan meningkatkan kualitas tidur anak.

Lingkungan yang menenangkan ini, berbeda-beda pada setiap anak. Anak yang satu mungkin lebih suka suasana yang gelap, sedangkan yang lain lebih suka ditemani boneka dengan cahaya redup di sekitar ruangan.

Intinya, bunda bisa bereksperimen mencari setup yang pas untuk membuatnya relaks di kamar. Mengurangi rasa takut di malam hari bisa menjadi kunci untuk membuatnya tidur mandiri.

Ciptakan Ekspektasi Yang Jelas

Oke, masih belum ke tahap “menyeret” si kecil tidur di kamar yaa. Pertama, bicaralah dengannya mengenai perubahan kebiasaan tidur yang akan dilaluinya.

“Ade udah tidur di kamar bunda dari minggu kemarin loh. Malem ini, ade tidur di kamar dede lagi yaa.” Buat ia nyaman. Daripada bilang “Ade ngga usah takut,” cobalah ganti dengan “Bunda tahu ade takut, tapi bunda percaya kok ade kuat tidur sendiri meski takut sekalipun.”

Terdengar seperti naskah sinetron memang, tapi percayalah bahwa ucapan bunda ini dapat menjadi motivator yang kuat buat si kecil tidur sendirian. Terakhir, jelaskan padanya bahwa bunda memang punya ekspektasi yang tinggi (berharap) kalau si kecil bisa stay di kamarnya semalaman.

Lakukan Perlahan-Lahan

Kalau si kecil sedari dulu memang sudah sering tidur di kamar bunda, pastinya anak membutuhkan bantuan untuk menjalani transisi tersebut. Buatlah rencana yang bersifat step-by-step. Artinya, bunda ngga tiba-tiba menyuruhnya tidur langsung di kamarnya sendiri.

Contoh yang paling sederhana, bunda bisa menerimanya tidur di kamar, asalkan ia tidur di atas matras di lantai. Atau, bunda bisa tidur di kamar si kecil hingga ia cukup nyaman dengan kamarnya sendiri. Setelah itu, ia bisa bertransisi perlahan-lahan untuk tidur mandiri.

Bangunlah Rutinitas Tidur Yang Sehat

Rutinitas tidur yang sehat bisa membantunya mendapatkan kualitas tidur yang baik. Mandi hangat, cerita menjelang tidur atau dekapan penuh kasih sayang dari bunda bisa membantunya tidur di kamar sendirian.

Lalu, saat lampu siap dimatikan, tinggalkan ruangan supaya ia bisa berlatih untuk tertidur sesuai keinginannya sendiri.

Konsistenlah Dalam Membiasakan Anak Tidur Sendiri!

Ngobrolin konsistensi dalam topik yang satu ini sebenernya kayak paradox gitu. Bunda konsisten setiap malam mengembalikan si kecil ke kamarnya saat ia mengendap-endap tidur bareng bunda di tengah malam.

Tapi, hanya dengan satu malam yang melelahkan, semuanya bisa hancur dan bukannya konsisten, bunda malah balik square one alias ke awal lagi.

Jangan tunjukkan bahwa kamu bisa dimanipulasi oleh kegigihannya melawan dan tidak mau tidur di kamarnya sendiri. Jangan lelah mengembalikannya ke kamar dan jangan pula mencari-cari alasan bahwa ia bisa tidur di kamar bunda karena ia lelah atau karena hari bunda sama-sama melelahkan.

Memberi pesan yang tidak pasti hanya akan memperpanjang masalah yang ada!

Berilah Perhatian Yang Positif

Berilah si kecil hadiah atas pencapaiannya tidur mandiri. Balita dan Anak Prasekolah akan suka dengan stiker. Berbeda dengan balita, anak yang lebih tua mungkin akan lebih termotivasi dengan sistem token.

Bilanglah pada si kecil, “Dede dapet 2 token buat kemarin malam yaa,” setelah mengumpulkan cukup banyak, ada banyak hadiah yang bisa ia pilih nantinya, seperti es krim atau izin untuk main gadget dengan waktu tambahan.

Jangan lupa untuk menyisipkan pujian atas pencapaiannya untuk menegaskan kalau bunda memang senang dengan progres dari si kecil.

Selesaikan Masalah Ini Secara Proaktif

Bunda mungkin akan menjumpai beberapa masalah ketika membiasakan si kecil untuk tidur di kamarnya. Ada satu waktu dimana si kecil mengendap-endap ke kamar tanpa bersuara sedikit pun sehingga bunda tidak mendengarnya datang (yang mana dalam kasus ini, bunda bisa dengan mudah mengatasinya dengan memasang lonceng di pintu kamar).

Atau mungkin, bunda sedang mengandung bayi baru dan si kecil tidur di kamar bunda karena ia iri dengan saudara barunya. Nah, kalau masalahnya seperti ini, berilah ia ekstra waktu bersama di siang hari untuk membantunya mendapat perhatian yang ia butuhkan.

Apabila progres ngga maju-maju (regresi), atau bunda mendapat masalah yang menghalanginya mencapai progres yang diharapkan, mundurlah satu langkah ke belakang. Usut tuntas potensi masalah yang menyebabkan kemunduran ini dan carilah solusinya seefektif mungkin.

Lima Tahun Pertama Perkembangan Anak Usia Dini

Lima Tahun Pertama Perkembangan Anak Usia Dini

Flascokids – ‘Perkembangan’ pada anak usia dini artinya perubahan dalam pertumbuhan fisik anak Anda. ‘Perkembangan’ juga berlaku dalam perubahan keterampilan sosial, emosional, perilaku, pemikiran, dan komunikasi si kecil.

Semua bidang pengembangan ini saling berkaitan, dan masing-masing bergantung serta mempengaruhi yang lain.

Dalam lima tahun pertama kehidupan, pengalaman dan hubungan (dengan seseorang) merangsang perkembangan anak di usia dini, dan menciptakan jutaan koneksi di otak mereka.

Bahkan otak  anak-anak mengembangkan koneksi lebih cepat dalam lima tahun pertama daripada pada waktu lain dalam hidup mereka. Lima tahun adalah waktu ketika fondasi untuk belajar, kesehatan dan perilaku sepanjang hidup tercipta.

Hubungan Sebagai Dasar Perkembangan Anak

perkembangan anak usia dini 02

Hubungan anak-anak mempengaruhi semua bidang dan tahapan perkembangan mereka. Padahal, hubungan adalah fondasi perkembangan anak.

Melalui relasi, anak Anda belajar informasi penting tentang dunia mereka. Misalnya, anak bunda belajar apakah dunia aman, apakah mereka dicintai, siapa yang mencintai mereka, apa yang terjadi ketika mereka menangis atau tertawa, dan masih banyak lagi.

Anak juga belajar dengan melihat hubungan di antara orang lain – misalnya, dengan melihat bagaimana Anda berperilaku dengan anggota keluarga lain. Pembelajaran ini adalah fondasi untuk pengembangan komunikasi, perilaku, sosial, dan keterampilan lainnya.

Bagaimana Perkembangan Dan Pembelajaran Anak Terjadi Saat Bermain

Pada tahun-tahun pertama si kecil, bermain adalah cara utama anak-anak untuk belajar dan berkembang.

Bermain menyenangkan untuk si kecil. Bermain juga memberi anak kesempatan untuk mengeksplorasi, mengamati, bereksperimen, dan memecahkan masalah. Anak akan membutuhkan dukungan dan dorongan bunda untuk melakukan hal ini.

Tetapi penting untuk bunda mencari keseimbangan antara mendukung anak dan membiarkannya mencoba sesuatu sendiri dan kadang-kadang membuat kesalahan. Mencari tahu sendiri tentang bagaimana dunia bekerja adalah bagian besar dari pembelajaran anak Anda.

Waktu yang dihabiskan untuk bermain, berbicara, mendengarkan, dan berinteraksi dengan bunda membantu si kecil mempelajari keterampilan dalam hidup. Keterampilan ini termasuk berkomunikasi, berpikir, memecahkan masalah, bergerak serta menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.

Hal-hal lain yang membentuk perkembangan anak

perkembangan anak usia dini

Gen anak dan faktor-faktor lain seperti makan sehat, aktivitas fisik, kesehatan, dan lingkungan tempat bunda tinggal juga memengaruhi perkembangan dan kesejahteraan anak.

Asupan Gizi yang Sehat
Makanan sehat memberi anak energi dan nutrisi yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan berkembang. Ia juga membantu mengembangkan indra perasa si kecil. Makanan keluarga yang sehat dan pola makan di tahun-tahun awal dapat menentukan kebiasaan makan sehatnya di kemudian hari.

Aktivitas fisik
Aktif secara fisik sangat penting bagi kesehatan si kecil. Aktivitas fisik membuat anak bergerak, mengembangkan keterampilan motorik, membantu si kecil berpikir dan memberi anak kesempatan untuk menjelajahi dunia mereka. Dari sana, si kecil akan membutuhkan banyak kesempatan untuk bermain aktif, baik di dalam maupun di luar.

Kesehatan
Penyakit anak seperti pilek, nyeri telinga dan gastroenteritis umumnya tidak akan memiliki efek jangka panjang pada perkembangan. Namun disabilitas, keterlambatan perkembangan dan kondisi kronis atau jangka panjang dapat mempengaruhi pembangunan. Dokter kesehatan dan Profesional disabilitas dapat membantu bunda memahami kondisi anak serta bagaimana hal itu mempengaruhi perkembangan.

Lingkungan dan Masyarakat di Sekitarnya
Perkembangan anak didukung oleh hubungan positif dengan teman dan tetangga, serta akses ke taman bermain, toko, dan layanan lokal seperti penitipan anak, kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah, pusat kesehatan, dan perpustakaan.

Perbedaan di antara anak-anak

difference!

Secara umum, perkembangan terjadi dalam urutan yang sama pada sebagian besar anak-anak, tetapi keterampilan mungkin berkembang pada usia atau waktu yang berbeda. Misalnya, anak-anak biasanya belajar berdiri, dan kemudian mereka belajar berjalan. Tetapi perkembangan ini dapat terjadi kapan saja antara 8 dan 18 bulan.

Jadi, jika bunda bertanya-tanya apakah perkembangan anak berada di jalur yang tepat atau tidak, ingatlah bahwa perkembangan terjadi dari waktu ke waktu. Perbedaan di antara anak-anak biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Menjadi orang tua

Mau bunda telah berkepala empat, lima ataupun enam, bunda takkan terlepas dari pembelajaran khususnya mengenai si kecil. Percaya diri dengan apa yang bunda ketahui bukanlah hal yang buruk. Mengakui kalau bunda tidak tahu sesuatu dan mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan bantuan juga bukanlah hal yang buruk.

Ketika bunda terlalu fokus menjaga bayi atau anak, bunda mungkin lupa atau kehabisan waktu untuk menjaga diri bunda sendiri. Menjaga diri secara fisik, mental dan emosional akan membantu si kecil tumbuh dan berkembang dengan baik.

Anak Alami Mimpi Buruk Setiap Malam? Ketahui Ini Untuk Mengatasinya!

Anak Alami Mimpi Buruk Setiap Malam? Ketahui Ini Untuk Mengatasinya!

Flascokids – Mimpi buruk adalah mimpi yang bisa menyebabkan anak bangun gemetaran, ketakutan dan marah. Anak biasanya mengalami mimpi mengenai:

  • bahaya nyata seperti anjing liar, laba-laba, ikan hiu
  • monster
  • kejadian menakutkan yang pernah si kecil alami.

Bergantung pada kemampuan berbahasanya, si kecil terkadang mampu menceritakan apa yang ia alami tersebut secara mendetail.

Mimpi buruk cenderung terjadi di dua per tiga malam ketika ia tertidur lelap dan sedang bermimpi. Beberapa anak mungkin merasa takut untuk kembali tidur setelah ia bermimpi buruk.

Mimpi buruk merupakan hal yang lazim kita temukan pada anak berapapun usianya, tapi ia banyak ditemukan ketika anak berusia 10 tahun.

Tips Mengatasi Mimpi Buruk

Si kecil kadang terbangun sambil berlinang air mata dan juga gelisah setelah bermimpi buruk. Bahkan anak yang lebih muda terkadang kebingungan membedakan mimpi dan realita.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan lebih mengerti bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Meski begitu, si kecil tetap membutuhkan bunda untuk menemaninya setelah bermimpi buruk.

Di bawah ini, ada beberapa tips untuk membantu bunda dalam mengatasi hal tersebut:

  • Kalau si kecil bangun pagi karena bad dream, jelaskanlah bahwa itu hanyalah mimpi. Yakinkan ia bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang akan terluka. Kecupan dan pelukan bisa membantunya tenang kembali.
  • Biarkan anak tahu bahwa takut setelah nightmare bukanlah hal yang buruk. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa bahwa si kecil konyol, karena mimpi buruk bisa sangat nyata untuk anak-anak.
  • Apabila si kecil memimpikan monster, jelaskan bahwa monster tidak ada dan semuanya hanya khayalan. Jelaskan pula bahwa hal-hal khayalan bisa menakutkan, tapi pada akhirnya ia tidak akan bisa menyakiti si kecil.
  • Bersabarlah ketika anak bercerita mengenai apa yang ia alami di kemudian hari. Dengarkan kisahnya – jangan abaikan atau remehkan mereka. Sembari tenang, berdiskusilah mengenai hal tersebut untuk membantu mengurangi tekanan emosionalnya. Tapi, kalau anak terkesan lupa akan mimpi buruknya, jangan ungkit hal tersebut.
  • Seiring bertumbuhnya anak, dorong si kecil untuk melihat bad dream sebagai hal yang bisa mereka pulihkan sendiri sehingga ia bisa kembali tidur sendiri.

Coba beberapa tips di bawah ini apabila si kecil mengalami banyak sekali mimpi buruk, atau bermimpi mengenai hal yang sama berulang-ulang kali:

  • Tanya si kecil dengan lembut mengenai interaksi dengan teman-temannya, program TV yang ia tonton, atau game yang ia mainkan di siang hari. Setelah mengetahuinya, bunda bisa mencoba untuk menghindarkan hal-hal yang bisa mentrigger mimpi buruknya di kemudian malam.
  • Bantulah anak untuk mengubah bunga tidur yang berulang-ulang tersebut. Contohnya, apabila mimpinya berhubungan dengan alien menakutkan, beri ia sugesti bahwa si kecil punya tongkat sihir untuk membuat alien tersebut menghilang. Dorong juga anak untuk melahirkan ide genius seperti menjadi seorang pahlawan dalam mimpinya sendiri.
  • Pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.
  • Apabila si kecil rentan terhadap stres dan kegelisahan, cobalah berpikir untuk mencari cara membantunya relax sebelum tidur.

Apa Penyebabnya?

Sesekali, mimpi buruk terjadi pada anak dan hal tersebut normal adanya. Apabila si kecil bermimpi buruk setiap malam, bukan berarti ada yang salah secara emosional padanya. Bunda ngga perlu khawatir.

Anak dengan imajinasi yang hidup mungkin mengalami bad dream yang lebih sering dibanding anak pada umumnya. Kembali lagi, bunda ngga perlu khawatir.

Anak yang berjalan saat tidur juga memiliki kemungkinan untuk bermimpi buruk dengan frekuensi yang terhitung tinggi. Satu yang pasti, ketika si kecil bermimpi buruk dalam jumlah yang tidak sedikit, anak mungkin mengalami stres di siang harinya.

Peristiwa traumatis juga bisa menjadi penyebab mimpi buruk. Apabila seorang anak mengalami kerjadian traumatis, mimpi buruk mungkin mengiringi malamnya hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah peristiwa terjadi.

Mengenal Gejala ADHD Pada Anak dan Tips untuk Menanganinya!

Mengenal Gejala ADHD Pada Anak dan Tips untuk Menanganinya!

Flascokids – Bunda khawatir si kecil mengidap gejala hiperaktif? Berikut ini, cara untuk mengenali gejala ADHD pada anak dan pertolongan yang bisa bunda lakukan untuk si kecil.

Buat bunda yang belum tahu, ADHD sendiri adalah istilah kelainan perkembangan saraf (bukan kelainan saraf yaa bun) yang biasanya muncul pada anak usia dini, terkhusus sebelum usia 7 tahun. Nah, kalau itu istilah secara medisnya.

Terus, apa efeknya untuk si kecil? ADHD membuat anak kesulitan untuk menahan respons spontan mereka – respon tersebut bervariasi mulai dari gerak tubuh, verbal (lisan) hingga perhatian.

Bunda ngga asing dong dengan anak yang susah banget diem, pandangannya seperti tidak mendengarkan apa yang bunda katakan, ngga mau mengikuti instruksi bunda ngga peduli seberapa jelas bunda menyajikannya untuk anak, atau bahkan mengeluarkan komentar-komentar tak layak di momen yang super-duper ngga banget.

Di masyarakat, anak-anak seperti ini sering kali dicap sebagai pembuat masalah (troublemakers). Tak jarang juga kadang anak seperti ini dikritisasi sebagai anak yang malas dan tidak disiplin. Tapi tahukah bunda, mereka yang tak mau diam ini mungkin mengidap ADHD.

Apa bedanya ADHD dengan Perilaku Anak pada Umumnya?

Oke, memang bukan hal yang mudah untuk membedakan ADHD dengan perilaku anak “pada umumnya”. Kalau bunda hanya menemukan tanda atau gejala di beberapa situasi tertentu, mungkin ia memang tidak mengidap ADHD.

Di satu sisi, kalau si kecil menunjukkan tanda dan gejala ADHD yang juga muncul dalam situasi yang bervariasi – baik di rumah, sekolah, ataupun saat bermain – waktunya bunda mendekati si kecil.

Tinggal bersama anak yang mengidap ADHD mungkin bisa membuat bunda kewalahan. Tapi sebagai orang tua, ada banyak hal yang bisa bunda lakukan untuk mengontrol gejala, mengatasi rintangan dalam kesehariannya serta membawa ketenangan tersendiri di tengah keluarga.

Nah, biar ngga susah membedakannya, ketahui beberapa mitos dan fakta mengenai ADHD:

Mitos dan Fakta mengenai ADHD
Mitos: Semua anak pengidap ADHD pasti hiperaktif!
Fakta: Beberapa anak yang mengidap ADHD memang hiperaktif, tapi sebagian khususnya mereka yang mengidap masalah perhatian, tidak selalu mengidapnya. Anak pengidap ADHD yang kurang atentif atau perhatian, tapi tidak terlalu hiperaktif, biasanya tampak tidak termotivasi dan kosong (pandangannya).
Mitos: Semua anak pengidap ADHD tidak bisa konsentrasi!
Fakta: Anak yang mengidap ADHD biasanya bisa berkonsentrasi pada aktivitas yang mereka sukai. Sayangnya, tak perduli seberapa keras si kecil mencoba, biasanya mereka berakhir kesulitan mempertahankan fokus tersebut khususnya ketika aktivitas terasa repetitif atau membosankan.
Mitos: Anak pengidap ADHD bisa berperilaku lebih baik kalau mereka mau!
Fakta: Percayalah kalau anak pasti berusaha yang terbaik untuk berperilaku baik, tapi kembali lagi, karena ini merupakan kelainan perkembangan saraf, si kecil pasti berakhir tidak bisa diam ataupun fokus. Dari luar, anak mungkin tampak sebagai anak yang ngga nurut, tapi bukan berarti ia memang sengaja melakukannya.
Mitos: Anak pengidap ADHD akan sembuh seiring pertumbuhan!
Fakta: Ngga! ADHD bisa berlanjut sama anak tumbuh dewasa, jadi jangan tunggu anak tumbuh untuk menyelesaikan masalah ini. Pengobatan (treatment) bisa membantu anak untuk mengontrol dan meminimalisir gejala.
Mitos: Obat-obatan merupakan treament terbaik untuk mengatasi ADHD!
Fakta: Medikasi atau obat memang terkadang diresepkan untuk mengatasi kelainan perhatian anak, tapi treatment ini mungkin bukan yang terbaik untuk anak. Pengobatan terbaik untuk mengatasi ADHD terletak pada edukasi, terapi perilaku, dukungan di rumah dan sekolah, latihan dan nutrisi yang tepat.

ADHD itu seperti apa sih?

Saat orang menggambarkan kelainan perhtian (attention deficit disorder), yang terbesit di benak mereka biasanya adalah anak yang tidak bisa diam, yang selalu mengganggu orang di sekitarnya.

Tapi realitanya lebih kompleks dari yang bunda bayangkan. Sebagian anak pengidap ADHD memang hiperaktif, tapi sebagian lainnya mungkin hanya anak pendiam yang pikirannya selalu berlari entah kemana.

Beberapa dari mereka terlalu fokus pada suatu kegiatan dan berakhir kesulitan untuk melakukan hal yang lain. Sementara yang lain tampak sedikit kurang memperhatikan, tapi super-duper impulsif.

Tanda dan gejala anak pengidap ADHD bergantung pada karakteristik mana yang mendominasi. Anak pengidap ADHD mungkin:

  • Inattentive (Kurang memperhatikan), tapi tidak hiperaktif atau impulsif
  • Hiperaktif dan Impulsif, tapi mampu fokus dan memperhatikan
  • Gabungan dari inattentive, hiperaktif, dan impulsif (poin ini merupakan bentuk umum dari ADHD itu sendiri).

Realita yang ada di masyarakat, anak yang mengidap gejala Inattentive atau kurang memperhatikan biasanya terabaikan karena memang mereka tidak berlaku impulsif (menjadi impulsif adalah ketika seseorang bertindak berdasarkan instingnya).

Namun, gejala yang satu ini mempunyai konsekuensi, biasanya berupa pertikaian (umumnya masalah) dengan orang tua atau guru karena tidak mengikuti arahan mereka; memiliki kinerja yang kurang baik di sekolah; hingga bertengkar dengan teman karena bermain tidak mengikuti aturan.

Mengenali ADHD berdasarkan Usia

Di umur berapa sih kita ‘mendeteksi’ gejala ADHD? Karena dari awal kita memang sudah punya anggapan kalau anak pasti mudah teralihkan perhatiannya dan juga hiperaktif, perilaku impulsif seperti memanjat atau spontanitasnya dalam berkomentarlah yang mudah kita kenali pada anak prasekolah pengidap ADHD.

Barulah di usia 4 atau 5 tahun, anak mulai belajar untuk memperhatikan seseorang berbicara, duduk ketika diminta, dan tidak mengucapkan semua yang terlintas di kepalanya. Saat anak masuk masa sekolahlah, perilaku ADHD akan menonjol dalam 3 bentuk kelainan: kurang memperhatikan, hiperaktif, dan impulsif.

Membantu Anak Yang Mengidap ADHD

Mau semua gejala yang si kecil idap berasal dari ADHD atau tidak, pada akhirnya gejala tersebut bisa melahirkan banyak masalah kalau bunda biarkan begitu saja.

Anak yang tidak bisa berkonsentrasi dan tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri biasanya akan bermasalah di sekolah. Mereka juga mendapat banyak masalah, hingga kesulitan untuk hidup berdampingan dengan seseorang ataupun teman.

Rasa frustasi yang juga lahir dari masalah ini bisa-bisa menurunkan kepercayaan diri serta membuat keluarga stres dan terpecah.

Treatment yang baik bisa menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam penanganan gejala anak. Ketika si kecil berjuang menangani gejala yang (kurang-lebih) mirip dengan ADHD, ngga perlu nunggu bantuan profesional.

Bunda bisa mengobati gejala ADHD si kecil (hiperaktif, perilaku impulsif, dan kurang perhatian) tanpa perlu diagnosa ADD. Mulailah dengan mengajak si kecil terapi, menerapkan diet yang lebih baik serta olahraga, dan atur lingkungan rumah sedemikian rupa untuk meminimalisir distraksi pada si kecil.

Kalaupun bunda menerima hasil diagnosa ADHD si kecil, bunda bisa bekerja sama dengan dokter, terapis, ataupun pihak sekolah untuk membangun rencana pengobatan khusus yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Treatment yang efektif untuk mengatasi ADHD anak terdiri dari terapi perilaku anak, pelatihan dan edukasi orang tua, dorongan sosial, serta bantuan dari sekolah. Obat-obatan memang mungkin digunakan, tetapi ia tidak menjadi treatment utama untuk menangani ADHD.