Anak Alami Mimpi Buruk Setiap Malam? Ketahui Ini Untuk Mengatasinya!

Anak Alami Mimpi Buruk Setiap Malam? Ketahui Ini Untuk Mengatasinya!

Flascokids – Mimpi buruk adalah mimpi yang bisa menyebabkan anak bangun gemetaran, ketakutan dan marah. Anak biasanya mengalami mimpi mengenai:

  • bahaya nyata seperti anjing liar, laba-laba, ikan hiu
  • monster
  • kejadian menakutkan yang pernah si kecil alami.

Bergantung pada kemampuan berbahasanya, si kecil terkadang mampu menceritakan apa yang ia alami tersebut secara mendetail.

Mimpi buruk cenderung terjadi di dua per tiga malam ketika ia tertidur lelap dan sedang bermimpi. Beberapa anak mungkin merasa takut untuk kembali tidur setelah ia bermimpi buruk.

Mimpi buruk merupakan hal yang lazim kita temukan pada anak berapapun usianya, tapi ia banyak ditemukan ketika anak berusia 10 tahun.

Tips Mengatasi Mimpi Buruk

Si kecil kadang terbangun sambil berlinang air mata dan juga gelisah setelah bermimpi buruk. Bahkan anak yang lebih muda terkadang kebingungan membedakan mimpi dan realita.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan lebih mengerti bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Meski begitu, si kecil tetap membutuhkan bunda untuk menemaninya setelah bermimpi buruk.

Di bawah ini, ada beberapa tips untuk membantu bunda dalam mengatasi hal tersebut:

  • Kalau si kecil bangun pagi karena bad dream, jelaskanlah bahwa itu hanyalah mimpi. Yakinkan ia bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang akan terluka. Kecupan dan pelukan bisa membantunya tenang kembali.
  • Biarkan anak tahu bahwa takut setelah nightmare bukanlah hal yang buruk. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa bahwa si kecil konyol, karena mimpi buruk bisa sangat nyata untuk anak-anak.
  • Apabila si kecil memimpikan monster, jelaskan bahwa monster tidak ada dan semuanya hanya khayalan. Jelaskan pula bahwa hal-hal khayalan bisa menakutkan, tapi pada akhirnya ia tidak akan bisa menyakiti si kecil.
  • Bersabarlah ketika anak bercerita mengenai apa yang ia alami di kemudian hari. Dengarkan kisahnya – jangan abaikan atau remehkan mereka. Sembari tenang, berdiskusilah mengenai hal tersebut untuk membantu mengurangi tekanan emosionalnya. Tapi, kalau anak terkesan lupa akan mimpi buruknya, jangan ungkit hal tersebut.
  • Seiring bertumbuhnya anak, dorong si kecil untuk melihat bad dream sebagai hal yang bisa mereka pulihkan sendiri sehingga ia bisa kembali tidur sendiri.

Coba beberapa tips di bawah ini apabila si kecil mengalami banyak sekali mimpi buruk, atau bermimpi mengenai hal yang sama berulang-ulang kali:

  • Tanya si kecil dengan lembut mengenai interaksi dengan teman-temannya, program TV yang ia tonton, atau game yang ia mainkan di siang hari. Setelah mengetahuinya, bunda bisa mencoba untuk menghindarkan hal-hal yang bisa mentrigger mimpi buruknya di kemudian malam.
  • Bantulah anak untuk mengubah bunga tidur yang berulang-ulang tersebut. Contohnya, apabila mimpinya berhubungan dengan alien menakutkan, beri ia sugesti bahwa si kecil punya tongkat sihir untuk membuat alien tersebut menghilang. Dorong juga anak untuk melahirkan ide genius seperti menjadi seorang pahlawan dalam mimpinya sendiri.
  • Pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup.
  • Apabila si kecil rentan terhadap stres dan kegelisahan, cobalah berpikir untuk mencari cara membantunya relax sebelum tidur.

Apa Penyebabnya?

Sesekali, mimpi buruk terjadi pada anak dan hal tersebut normal adanya. Apabila si kecil bermimpi buruk setiap malam, bukan berarti ada yang salah secara emosional padanya. Bunda ngga perlu khawatir.

Anak dengan imajinasi yang hidup mungkin mengalami bad dream yang lebih sering dibanding anak pada umumnya. Kembali lagi, bunda ngga perlu khawatir.

Anak yang berjalan saat tidur juga memiliki kemungkinan untuk bermimpi buruk dengan frekuensi yang terhitung tinggi. Satu yang pasti, ketika si kecil bermimpi buruk dalam jumlah yang tidak sedikit, anak mungkin mengalami stres di siang harinya.

Peristiwa traumatis juga bisa menjadi penyebab mimpi buruk. Apabila seorang anak mengalami kerjadian traumatis, mimpi buruk mungkin mengiringi malamnya hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah peristiwa terjadi.

Mengenal Gejala ADHD Pada Anak dan Tips untuk Menanganinya!

Mengenal Gejala ADHD Pada Anak dan Tips untuk Menanganinya!

Flascokids – Bunda khawatir si kecil mengidap gejala hiperaktif? Berikut ini, cara untuk mengenali gejala ADHD pada anak dan pertolongan yang bisa bunda lakukan untuk si kecil.

Buat bunda yang belum tahu, ADHD sendiri adalah istilah kelainan perkembangan saraf (bukan kelainan saraf yaa bun) yang biasanya muncul pada anak usia dini, terkhusus sebelum usia 7 tahun. Nah, kalau itu istilah secara medisnya.

Terus, apa efeknya untuk si kecil? ADHD membuat anak kesulitan untuk menahan respons spontan mereka – respon tersebut bervariasi mulai dari gerak tubuh, verbal (lisan) hingga perhatian.

Bunda ngga asing dong dengan anak yang susah banget diem, pandangannya seperti tidak mendengarkan apa yang bunda katakan, ngga mau mengikuti instruksi bunda ngga peduli seberapa jelas bunda menyajikannya untuk anak, atau bahkan mengeluarkan komentar-komentar tak layak di momen yang super-duper ngga banget.

Di masyarakat, anak-anak seperti ini sering kali dicap sebagai pembuat masalah (troublemakers). Tak jarang juga kadang anak seperti ini dikritisasi sebagai anak yang malas dan tidak disiplin. Tapi tahukah bunda, mereka yang tak mau diam ini mungkin mengidap ADHD.

Apa bedanya ADHD dengan Perilaku Anak pada Umumnya?

Oke, memang bukan hal yang mudah untuk membedakan ADHD dengan perilaku anak “pada umumnya”. Kalau bunda hanya menemukan tanda atau gejala di beberapa situasi tertentu, mungkin ia memang tidak mengidap ADHD.

Di satu sisi, kalau si kecil menunjukkan tanda dan gejala ADHD yang juga muncul dalam situasi yang bervariasi – baik di rumah, sekolah, ataupun saat bermain – waktunya bunda mendekati si kecil.

Tinggal bersama anak yang mengidap ADHD mungkin bisa membuat bunda kewalahan. Tapi sebagai orang tua, ada banyak hal yang bisa bunda lakukan untuk mengontrol gejala, mengatasi rintangan dalam kesehariannya serta membawa ketenangan tersendiri di tengah keluarga.

Nah, biar ngga susah membedakannya, ketahui beberapa mitos dan fakta mengenai ADHD:

Mitos dan Fakta mengenai ADHD
Mitos: Semua anak pengidap ADHD pasti hiperaktif!
Fakta: Beberapa anak yang mengidap ADHD memang hiperaktif, tapi sebagian khususnya mereka yang mengidap masalah perhatian, tidak selalu mengidapnya. Anak pengidap ADHD yang kurang atentif atau perhatian, tapi tidak terlalu hiperaktif, biasanya tampak tidak termotivasi dan kosong (pandangannya).
Mitos: Semua anak pengidap ADHD tidak bisa konsentrasi!
Fakta: Anak yang mengidap ADHD biasanya bisa berkonsentrasi pada aktivitas yang mereka sukai. Sayangnya, tak perduli seberapa keras si kecil mencoba, biasanya mereka berakhir kesulitan mempertahankan fokus tersebut khususnya ketika aktivitas terasa repetitif atau membosankan.
Mitos: Anak pengidap ADHD bisa berperilaku lebih baik kalau mereka mau!
Fakta: Percayalah kalau anak pasti berusaha yang terbaik untuk berperilaku baik, tapi kembali lagi, karena ini merupakan kelainan perkembangan saraf, si kecil pasti berakhir tidak bisa diam ataupun fokus. Dari luar, anak mungkin tampak sebagai anak yang ngga nurut, tapi bukan berarti ia memang sengaja melakukannya.
Mitos: Anak pengidap ADHD akan sembuh seiring pertumbuhan!
Fakta: Ngga! ADHD bisa berlanjut sama anak tumbuh dewasa, jadi jangan tunggu anak tumbuh untuk menyelesaikan masalah ini. Pengobatan (treatment) bisa membantu anak untuk mengontrol dan meminimalisir gejala.
Mitos: Obat-obatan merupakan treament terbaik untuk mengatasi ADHD!
Fakta: Medikasi atau obat memang terkadang diresepkan untuk mengatasi kelainan perhatian anak, tapi treatment ini mungkin bukan yang terbaik untuk anak. Pengobatan terbaik untuk mengatasi ADHD terletak pada edukasi, terapi perilaku, dukungan di rumah dan sekolah, latihan dan nutrisi yang tepat.

ADHD itu seperti apa sih?

Saat orang menggambarkan kelainan perhtian (attention deficit disorder), yang terbesit di benak mereka biasanya adalah anak yang tidak bisa diam, yang selalu mengganggu orang di sekitarnya.

Tapi realitanya lebih kompleks dari yang bunda bayangkan. Sebagian anak pengidap ADHD memang hiperaktif, tapi sebagian lainnya mungkin hanya anak pendiam yang pikirannya selalu berlari entah kemana.

Beberapa dari mereka terlalu fokus pada suatu kegiatan dan berakhir kesulitan untuk melakukan hal yang lain. Sementara yang lain tampak sedikit kurang memperhatikan, tapi super-duper impulsif.

Tanda dan gejala anak pengidap ADHD bergantung pada karakteristik mana yang mendominasi. Anak pengidap ADHD mungkin:

  • Inattentive (Kurang memperhatikan), tapi tidak hiperaktif atau impulsif
  • Hiperaktif dan Impulsif, tapi mampu fokus dan memperhatikan
  • Gabungan dari inattentive, hiperaktif, dan impulsif (poin ini merupakan bentuk umum dari ADHD itu sendiri).

Realita yang ada di masyarakat, anak yang mengidap gejala Inattentive atau kurang memperhatikan biasanya terabaikan karena memang mereka tidak berlaku impulsif (menjadi impulsif adalah ketika seseorang bertindak berdasarkan instingnya).

Namun, gejala yang satu ini mempunyai konsekuensi, biasanya berupa pertikaian (umumnya masalah) dengan orang tua atau guru karena tidak mengikuti arahan mereka; memiliki kinerja yang kurang baik di sekolah; hingga bertengkar dengan teman karena bermain tidak mengikuti aturan.

Mengenali ADHD berdasarkan Usia

Di umur berapa sih kita ‘mendeteksi’ gejala ADHD? Karena dari awal kita memang sudah punya anggapan kalau anak pasti mudah teralihkan perhatiannya dan juga hiperaktif, perilaku impulsif seperti memanjat atau spontanitasnya dalam berkomentarlah yang mudah kita kenali pada anak prasekolah pengidap ADHD.

Barulah di usia 4 atau 5 tahun, anak mulai belajar untuk memperhatikan seseorang berbicara, duduk ketika diminta, dan tidak mengucapkan semua yang terlintas di kepalanya. Saat anak masuk masa sekolahlah, perilaku ADHD akan menonjol dalam 3 bentuk kelainan: kurang memperhatikan, hiperaktif, dan impulsif.

Membantu Anak Yang Mengidap ADHD

Mau semua gejala yang si kecil idap berasal dari ADHD atau tidak, pada akhirnya gejala tersebut bisa melahirkan banyak masalah kalau bunda biarkan begitu saja.

Anak yang tidak bisa berkonsentrasi dan tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri biasanya akan bermasalah di sekolah. Mereka juga mendapat banyak masalah, hingga kesulitan untuk hidup berdampingan dengan seseorang ataupun teman.

Rasa frustasi yang juga lahir dari masalah ini bisa-bisa menurunkan kepercayaan diri serta membuat keluarga stres dan terpecah.

Treatment yang baik bisa menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam penanganan gejala anak. Ketika si kecil berjuang menangani gejala yang (kurang-lebih) mirip dengan ADHD, ngga perlu nunggu bantuan profesional.

Bunda bisa mengobati gejala ADHD si kecil (hiperaktif, perilaku impulsif, dan kurang perhatian) tanpa perlu diagnosa ADD. Mulailah dengan mengajak si kecil terapi, menerapkan diet yang lebih baik serta olahraga, dan atur lingkungan rumah sedemikian rupa untuk meminimalisir distraksi pada si kecil.

Kalaupun bunda menerima hasil diagnosa ADHD si kecil, bunda bisa bekerja sama dengan dokter, terapis, ataupun pihak sekolah untuk membangun rencana pengobatan khusus yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Treatment yang efektif untuk mengatasi ADHD anak terdiri dari terapi perilaku anak, pelatihan dan edukasi orang tua, dorongan sosial, serta bantuan dari sekolah. Obat-obatan memang mungkin digunakan, tetapi ia tidak menjadi treatment utama untuk menangani ADHD.

Cara Membiasakan Bangun Pagi Pada Anak Tanpa Buat Onar Serumah!

Cara Membiasakan Bangun Pagi Pada Anak Tanpa Buat Onar Serumah!

FlascokidsBu Hendra : Anak saya sudah beranjak dewasa, mulailah perjalanan saya untuk membiasakan si kecil bangun pagi. Super duper susah! Ketika saya bangunkan, dia engga merespon kecuali saya naikkan suara saya.

Saya benar-benar ngga suka, pagi-pagi, hal pertama yang saya lakukan malah maki-maki anak dan bikin satu rumah frustasi. Apakah ada, cara membiasakan bangun pagi untuk si kecil tanpa perlu barbar seperti cerita saya di atas?

Untuk menjawab kasus tadi, kali ini flascokids udah nyiapin 5 tips biar si kecil bisa terbiasa bangun pagi. Kalau penasaran, simak informasinya ya!

1. Kenali Dulu Pola Tidur Anak

Sebelum “membangunkan” ada baiknya bunda kenali dulu pola tidur si kecil. Alasan utama di balik susahnya anak bangun pagi karena si kecil memang belum mendapat tidur yang cukup.

Seperti yang kita tahu, durasi tidur anak pada dasarnya berbeda-beda. Jika bunda merasa si kecil tidak mendapat tidur yang cukup, hal yang pertama yang ingin bunda lakukan mungkin dengan mengubah rutinitasnya.

Selain penting untuk tumbuh-kembang anak, tidur yang cukup juga dapat memudahkan aktivitas bunda di pagi hari, setuju kan?

2. Perbaiki Bila Pola Tidurnya Berantakan

Apabila di poin pertama aja udah ketahuan kalau anak memang punya habit yang buruk berkenaan dengan tidur, ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan untuk memperbaikinya.

Segera setelah matahari terbenam, bunda bisa lakukan hal ini di rumah agar durasi anak tidur sedikit demi sedikit bisa meningkat:

  • Turunkan intensitas cahaya atau redupkan cahaya lampu
  • Hentikan penggunaan elektronik atau Screen Time minimal satu jam sebelum tidur. Jangan biarkan anak tidak mendapat tidur yang cukup karena aktivitas seperti SMS-an, Instagramming, atau Youtube-an.
  • Batasi konsumsi kafein.
    Mungkin parents bertanya-tanya, memangnya produk apa yang mengandung kafein tanpa kita sadari si kecil konsumsi? Contoh yang sering kita temukan: Soda, Energy Drink (Panther), Topping Coklat pada beberapa makanan seperti Es Krim dan Yogurt
  • Mandi dengan air hangat
  • Lakukan aktivitas keluarga yang hening seperti membaca cerita.

3. Niat

Ada banyak hal yang menjadi alasan kenapa anak harus bangun di pagi hari. Khusus untuk orang tua muslim, tidak ada lagi alasan yang tepat untuk membangunkan si kecil selain untuk shalat shubuh.

Persoalan utamanya memang bukan sekedar “Oke dek, bangun, sholat sana!”, melainkan bagaimana kita membiasakan ia beribadah sedemikian rupa, hingga ketika ia meraih pubertas, si kecil melaksanakan sholat shubuh sesuai keinginannya sendiri tanpa perlu kita omeli terlebih dahulu.

Kalau anak tidak merasa nyaman untuk bangun kemudian bunda malah memaksanya dengan ancaman atau omelan, yang ada si kecil malah makin enggan untuk bangun pagi.

Ia mungkin bangun, tapi tidak dengan perasaannya. Fokus utama bunda bukan untuk memaksanya mematuhi kewajiban tauhid yang membebani, fokus utama bunda adalah membuatnya cinta dengan apa yang ia pelajari dalam agama.

4. Cara Membangunkan

Pergilah ke tempat tidurnya dan peluk si kecil. Cubit pipinya, peluk kembali, cium dan katakan bahwa bunda mencintainya. Jangan lupa katakan kalau ia sudah besar dan bunda bangga kalau si kecil bangun untuk shalat.

Kalau bunda melakukannya dengan benar, maka si kecil akan bangun sedikit demi sedikit, menikmati porsi cinta dari keluarga di pagi hari dan semakin dekat ke pelukan bunda.

Terus beri ia cinta dan ketika ia sudah setengah bangun, bunda juga bisa menggelitiknya, bercanda, dan bermain-main dengannya. Dalam prosesnya, terkadang bunda juga bisa mempertegas suara bunda, namun tetap lembut untuk menekankan pentingnya do’a.

Kalau bunda terus melakukannya, si kecil pasti akan bangun. Ketika ia bangun, temani dan pegang tangannya, bawa dia ke kamar mandi dan bantulah si kecil berwudhu. Kasih sayang bunda di pagi hari merupakan kunci dalam membantu si kecil belajar menjadi religius.

Akibat dari Perilaku Bullying dan Cara Mengatasinya!

Akibat dari Perilaku Bullying dan Cara Mengatasinya!

Flascokids – Dilihat dari manapun, perilaku bullying memang meninggalkan bekas yang menyakitkan bagi setiap orang yang menjadi korbannya. Akibat dari perilaku bullying atau cyberbullying kurang lebih sama:

  • Anak akan dibuat tidak nyaman. Amarah, takut, tak berdaya, putus asa, terisolasi, malu atau bahkan rasa bersalah dapat menghantui si kecil ketika bullying terjadi. Terakhir, rasa yang paling menakutkan adalah keinginan untuk bunuh diri
  • Kesehatan fisik anak juga kemungkinan menurun akibat tekanan mental yang didapat dari bullying. Adapun resiko lain yang timbul antara lain depresi, merasa rendah diri, dan perasaan gelisah
  • Ada kemungkinan, anak memilih untuk bolos atau tidak mengikuti kelas untuk menghindari bully.

Dalam beberapa kasus, akibat dari cyberbullying bisa lebih menjadi-jadi karena beberapa hal berikut ini:

  • Cyberbullying dapat terjadi kapanpun dan dimanapun. Anak dapat mengalaminya bahkan di tempat yang ia anggap aman seperti rumah, di waktu yang bahkan tidak anak duga sama sekali seperti akhir pekan di saat ia berkumpul bersama keluarga. Rasanya, tidak ada jalan keluar dari semua penghinaan yang terjadi pada si kecil
  • Banyak cyberbullying yang terjadi tanpa diketahui pelakunya, sehingga kita sebagai orang tua pun tidak tahu siapa yang menarget anak. Hal ini hanya membuat si kecil merasa lebih tertekan dan malah membuat bully lebih menjadi-jadi dengan alasan pelaku tidak akan tertangkap dengan mudah. Yang paling parah, karena cyberbullies tidak bisa melihat ekspresi korban (anak), mereka juga “lebih berani” untuk melakukan cacian tanpa ampun, melebihi apa yang akan mereka lakukan ketika berhadapan langsung.
  • Cyberbullying berpotensi disaksikan oleh ribuan orang, semakin luas jangkauannya, semakin memalukan juga efek yang dihasilkan.

Kenapa Anak Dibuli?

Ada banyak alasan kenapa anak menjadi target bullying. Pembuli cenderung menarget anak yang “berbeda” atau anak yang tidak “masuk” dalam suatu kelompok. Bisa jadi karena apa yang si kecil kenakan, perilakunya yang memang berbeda, atau bahkan ras, agama, hingga orientasi seksualnya.

Yang paling sederhana mungkin karena si kecil masih baru dalam suatu lingkungan dan belum berteman sama sekali yang membuatnya menjadi sasaran bullying.

Adapun alasan kenapa anak “melakukan” bullying pada anak yang lain:

  1. Untuk mendapatkan perhatian atau membuat diri menjadi popular
  2. Karena anak iri
  3. Biar terlihat tangguh di hadapan orang
  4. Karena mereka sendiri pernah dibully
  5. Pelampiasan untuk menghindari masalah sendiri

Apapun alasan anak menjadi target bullying, buat si kecil sadar kalau ia tidak sendirian. Sebagian dari kita juga pernah menjadi sasaran bullying di beberapa titik dalam kehidupan kita.

Meski begitu, jangan biarkan anak menyerah begitu saja. Masih ada banyak orang di luar sana yang bisa membantunya mengatasi masalah ini. Pertahankan martabatnya, dan pertahankan kepercayaan dirinya sebaik mungkin.

Tips Bagi Orang Tua Atau Guru Untuk Menghentikan Perilaku Bullying

Mau sesakit apapun akibat yang dihasilkan dari bullying, anak seringkali enggan bercerita pada orang tua ataupun guru karena si kecil merasa malu menjadi “korban”. Beda lagi kasusnya dengan cyberbullying, anak enggan bercerita karena takut smartphonenya kita sita.

Pembully juga cenderung mahir menyembunyikan perilaku mereka dari orang dewasa. Jadi, apabila ada anak menjadi korban bully, orang tua ataupun guru biasanya kesulitan untuk mendeteksinya.

Meski begitu, merupakan hal yang super penting bagi kita orang tua untuk bisa melihat tanda-tanda bullying atau cyberbullying pada si kecil. Anak bisa menjadi korban pembullyan apabila mereka:

  1. Menjauhkan diri dari keluarga, teman hingga aktivitas yang tadinya ia sukai
  2. Mengalami penurunan nilai yang tidak bisa dijelaskan
  3. Menolak untuk pergi ke kelas tertentu
  4. Menolak untuk mengikuti aktivitas ekskul
  5. Menunjukkan perubahan mood, perilaku, kebiasaan tidur atau nafsu makan
  6. Menunjukkan tanda depresi atau kegelisahan
  7. Berubah menjadi sedih, marah, atau stres saat atau setelah online
  8. Gelisah ketika melihat pesan, email atau postingan di sosial media.

Meski penting bagi orang tua untuk tidak mengancam atau mengambil akses teknologi si kecil sebagai hukuman, terutama ketika tahu si kecil merupakan korban cyberbullying, orang tua juga senantiasa harus berani memonitor penggunaan gadget pada anak, terlepas dari seberapa bencinya anak pada hal tersebut. Tipsnya?

  1. Gunakan aplikasi ‘parental controls’ pada gadget anak dan pasang filter agar gadget dapat memblokir konten web yang tidak pantas. Install juga aplikasi yang dapat memonitor aktivitas online anak
  2. Ketahui siapa saja orang yang berkomunikasi dengan anak secara online
  3. Dorong anak agar mau bercerita pada orang tua atau orang dewasa lain yang tentunya anak percaya apabila si kecil mendapatkan pesan ancaman.

Kalau Si Kecil Yang Menjadi Pembuli

Beda lagi ceritanya kalau si kecil ternyata berperan sebagai pembully. Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri perilaku negatif yang satu ini sebelum ia berubah menjadi super serius dan berdampak pada diri anak dalam jangka waktu yang lama.

Anak yang suka membully:

  1. Memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan
  2. Mudah bertengkar, mencoret properti bahkan di DO dari sekolah
  3. Dua kali lebih memungkinkan untuk mendapatkan hukuman pidana dan empat kali lebih memungkinkan menjadi pelanggar pasal berlapis dari orang dewasa pada umumnya
  4. Saat beranjak dewasa, ia akan lebih abusif (kasar) terhadap pasangan bahkan anaknya sendiri.

Kalau si kecil bermasalah dalam mengontrol emosinya terutama amarah, sakit hati atau frustasi, bicaralah pada terapis untuk membantunya mengatasi perasaan tersebut dalam norma yang lebih “sehat”.

Beberapa anak “pembully” juga belajar perilaku agresif dari pengalamannya saat di rumah. Sebagai orang tua, ada kemungkinan kalau kita mungkin mempertontonkan perilaku yang buruk pada anak seperti memukul, secara verbal atau fisik berlaku kasar pada pasangan atau bahkan memperlihatkan perilaku bullying seperti:

  1. Berkata kasar saat berkendara di jalan
  2. Mempermalukan waitress atau pegawai yang membuat suatu kesalahan
  3. Berkata hal negatif pada murid lain, orang tua mereka, atau bahkan guru hingga si kecil berpikir bahwa berperilaku seperti itu merupakan hal yang diterima
  4. Menyebarkan ujaran kebencian secara online.

Tips Mengatasi Anak Yang Suka Membully

Adapun tips untuk mengatasi anak yang suka membully:

  • Pelajari keseharian si kecil. Kalau kamu merasa tidak memberikan contoh yang buruk di rumah, kemungkinan lingkungannya lah yang mendorongnya untuk berbuat perilaku bullying. Bisa jadi teman atau mungkin orang di sekitarnya yang tidak kita ketahui. Bicaralah pada si kecil. Semakin kamu mengerti tentangnya, semakin mudah kamu mengidentifikasi akar permasalahannya.
  • Ajarkan anak mengenai apa itu bullying. Anak mungkin tidak mengerti betapa menyakitkannya akibat bullying pada anak lain (korban). Suntikkan rasa empati dan kesadaran akan sesama dengan mendorong anak untuk melihat aksi mereka dari kaca mata korban. Ingatkan anak kalau bullying atau cyberbullying dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.
  • Ajari anak untuk mengontrol emosi terutama stres dengan cara yang lebih sehat. Hal ini bisa kita lakukan dengan mengajaknya main ke alam, atau bermain bersama peliharaan.
  • Batasi penggunaan gadgetnya. Beritahu anak kalau kamu akan memonitor penggunaan gadget, komputer, dan smartphone. Kalau perlu, cabut aksesnya pada gadget apabila perilakunya belum berubah.
  • Bangun peraturan mengenai perilaku yang lebih mengikat. Anak mungkin berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan yang namanya disiplin. Meski begitu, kurangnya batasan hanya memperkuat sinyal bahwa si kecil tidak layak untuk waktu dan perhatian kamu sebagai orang tua.

Mengenal Perilaku Bullying Pada Anak dan Bagaimana Ia Terjadi!

Mengenal Perilaku Bullying Pada Anak dan Bagaimana Ia Terjadi!

Flascokids – Perilaku bullying masih marak terjadi di Indonesia. Memang, di masa pandemi seperti ini dan dengan liburnya sekolah, kasus bullying menurun secara drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tetapi, masih ada ancaman lain yang tentunya serupa dengan yang kita kenal dengan sebutan bullying.

Mau tahu informasinya? Simak aja langsung di bawah yaa!

Mengenal Perilaku Bullying?

Istilah bullying memang lebih familiar dibanding versi indonesianya yaitu “penindasan/risak”. Definisinya kurang lebih sama, yaitu segala bentuk kekerasan yang satu atau sekelompok orang lakukan dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus-menerus.

Kata kuncinya ada empat: kekerasan, satu atau sekelompok orang, untuk menyakiti, dan dilakukan secara terus-menerus.

Pembulian dapat meninggalkan efek yang membekas pada hidup anak. Anak akan merasa takut dari waktu ke waktu. Kemanapun anak pergi, ia akan khawatir dengan apa yang akan terjadi ketika pembuli datang.

Jenis-Jenis Bullying

perilaku bullying

Bullying sendiri sebenarnya bisa kita klasifikasikan menjadi 3 jenis:

  • Pembulian fisik, seperti memukul, menendang, atau mendorong (atau bahkan mengancam melakukan ketiganya), serta mencuri, menyembunyikan, atau merusak barang anak. Orang bisa melihat jenis penindasan ini karena adanya kontak fisik antara pelaku dengan korban
  • Bullying verbal (melalui indera pendengaran), seperti menggoda, mengejek, menghina, atau melecehkan anak secara verbal
  • Bullying relasi, seperti menolak untuk berbicara pada anak, mengasingkan si kecil dari grup ataupun aktivitas tertentu, menebar fitnah mengenai anak, atau memaksa si kecil melakukan hal yang tidak ia inginkan.

Anak laki-laki kerap kali melakukan perilaku bully menggunakan fisik, baik secara langsung ataupun dalam bentuk ancaman. Sebaliknya, anak perempuan lebih mungkin melakukan bullying dalam bentuk verbal atau relasi. Meski begitu, mau apapun bentuknya, bullying tetap tidak mempunyai tempat di masyarakat.

Bagaimana dengan Cyberbullying?

Teknologi ngga sepenuhnya membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Sebaliknya, masalah juga bisa timbul karena adanya teknologi. Seperti yang bisa kita amati dari maraknya perilaku “Cyberbullying” yang benar-benar super-duper banyak kita temui di media sosial.

Terus apa bedanya bullying dengan cyberbullying? Berbeda dengan bullying, cyberbullying bisa terjadi dimana saja, bahkan di rumah, tempat anak biasanya merasa lebih aman, hanya dengan bermodalkan smartphone, internet, dan media sosial. 24 Jam!

Konsepnya kurang lebih sama, cyberbullying memanfaatkan teknologi untuk mengganggu, mengancam, atau menghina (merendahkan) seseorang. Berbeda dengan bullying “tradisional”, cyberbullying tidak memerlukan kontak secara langsung.

Bagaimana Bentuk Bullying maya ini? Contohnya terhitung sangat bervariatif, mulai dari mengirim pesan ancaman atau ejekan melalui social media atau email (kebanyakan sih medsos yaa bun) hingga mencuri identitas online anak untuk melukai dan merendahkannya.

Bahkan beberapa cyberbullies tidak ragu-ragu untuk membuat website atau media sosial hanya untuk mencemooh anak.

Seperti halnya bullying “tradisional”, cewek dan cowok juga sama-sama melakukan cyberbullying. Yang jadi pembeda adalah metodenya. Anak laki-laki cenderung melakukan yang namanya “sexting”, suatu bentuk penindasan dengan mengirim pesan berbau seksual dan pesan berupa ancaman fisik dan sejenisnya.

Di sisi lain, anak perempuan biasanya melakukan perilaku ini dengan menyebarkan ragam tipu daya atau kebohongan, rahasia pribadi atau bahkan mengasingkan seseorang dari grup di media sosial dan sejenisnya.

Karena cyberbullying sangat mudah untuk dilakukan, seorang anak atau remaja bisa saja berubah peran dari yang tadinya “korban”, dalam satu titik bisa berubah menjadi pembuli dan kembali menjadi korban dan seterusnya.

Gejala dan Jenis-Jenis Gangguan Belajar Pada Anak

Gejala dan Jenis-Jenis Gangguan Belajar Pada Anak

Flascokids – Gangguan belajar bermacam-macam jenisnya. Seorang anak bisa saja kesulitan dalam membaca dan mengeja, sedangkan yang lain baik-baik saja dengan kata dan kalimat, tapi bermasalah dengan matematika.

Seluruh masalah ini memang berbeda-beda, tapi semuanya kurang lebih masuk dalam satu payung, dikenal dengan istilah gangguan belajar. Mengidentifikasi gangguan belajar sendiri bukanlah perkara mudah.

Karena banyaknya jenis dari gangguan ini, tidak ada satu gejala atau profile yang bisa dijadikan pegangan dari suatu jenis gangguan. Meski begitu, beberapa “lampu merah” bisa kita kenali sedari dini.

Kalau bunda peka dengan kondisi si kecil, bunda bisa mengidentifikasi sebuah gangguan belajar dengan cepat dan dengan sigap mengambil langkah untuk mengatasinya.

Di bawah ini ada beberapa “bendera peringatan” yang mungkin bisa membantu bunda dalam mengenali gejala learning disorders. Ingatlah kalau anak yang tidak punya gangguan belajar juga berkemungkinan mengalami kesulitan-kesulitan ini dalam waktu yang bervariasi.

Saat dimana bunda harus khawatir adalah ketika si kecil secara konsisten kesulitan untuk menguasai suatu kemampuan tertentu.

Gejala: Pra Sekolah

Terdapat beberapa gejala kelainan belajar yang bisa kita kenali pada usia pra sekolah:

  • Kesulitan mengucap kata
  • Kesulitan mencari kata yang tepat
  • Bermasalah mempelajari huruf, angka, warna, bentuk, ataupun mengingat hari
  • Kesulitan mengikuti arah
  • Bermasalah dalam mempelajari suatu rutinitas
  • Kesulitan mengontrol krayon, pensil, dan gunting hingga mewarnai garis
  • Bermasalah dengan kancing dan resleting, ataupun belajar mengikat sepatu.

Gejala: Anak Umur 5-9 Tahun

Adapun beberapa gejala kelainan belajar yang bisa kita kenali pada anak usia 5-9 tahun:

  • Kesulitan mempelajari hubungan antara huruf dan bagaimana cara pengucapannya
  • Bingung dengan kata-kata dasar saat membaca
  • Lambat dalam mempelajari kemampuan baru
  • Secara konsisten salah mengeja kata dan sering membuat kesalahan
  • Kesulitan mempelajari konsep dasar menghitung
  • Kesulitan mengingat waktu
  • Bermasalah dalam mengingat suatu urutan.

Gejala: Anak Umur 10-13 Tahun

Terakhir, ada beberapa gejala kelainan belajar yang bisa kita kenali pada anak usia 10-13 tahun:

  • Kesulitan memahami apa yang ia baca
  • Bermasalah dengan hitungan
  • Tidak suka dengan membaca ataupun menghitung
  • Menghindar ketika disuruh membaca dengan lantang
  • Tulisan tangan yang kurang “elok”
  • Memiliki kemampuan mengorganisir yang buruk (kamar, pekerjaan rumah, atau meja yang senantiasa berantakan)
  • Kesulitan dalam mengikuti diskusi di kelas
  • Kesulitan mengespresikan diri
  • Selalu salah mengeja kata yang sama (misalnya dalam PR ataupun saat mencatat sesuatu).


Keterlambatan perkembangan memang tidak serta-merta masuk dalam gejala kelainan belajar, meski begitu kalau bunda menyadarinya selagi ia masih belia, bunda bisa langsung mengatasi kelainan tersebut.

Hanya bunda yang mengetahui apa yang sedang terjadi pada si kecil, jadi apabila bunda mencium sesuatu yang tidak beres, tidak ada salahnya bunda mengevaluasi apa yang terjadi kan?

Tidak lupa, bunda juga bisa berkonsultasi dengan dokter anak mengenai bagan perkembangan anak agar selalu up to date dengan apa yang sedang terjadi pada si kecil.


Jenis Gangguan Belajar Pada Anak

Kelainan belajar biasanya dikelompokkan berdasarkan keterampilan anak di sekolah. Nah, kalau udah ngobrolin sekolah, kelainan belajar yang mungkin muncul biasanya terpaku pada 3 hal dasar, membaca, menulis dan menghitung.

Gangguan Belajar dalam Membaca (Dyslexia)

Ada dua jenis kelainan belajar dalam membaca. Pertama masalah membaca dasar, terjadi ketika anak kesulitan dalam memahami hubungan antara suara, huruf dan kata. Kedua adalah masalah dalam memahami apa yang anak baca, yang satu ini terjadi ketika si kecil tidak mampu menangkap arti dari kata, kalimat atau paragraf.

Adapun tandanya berhubungan dengan masalah dalam:

  1. Mengenali huruf dan kata
  2. Memahami kalimat
  3. Kecepatan membaca
  4. Keterampilan kosa-kata umum

Gangguan Belajar dalam Menghitung (Dyscalculia)

Gangguan belajar dalam Menghitung sangat bermacam-macam tergantung kelebihan dan kekurangan anak. Kemampuan anak dalam menghitung dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kelainan linguistik (berbahasa), kelainan visual, ataupun kesulitan dalam mengurut, mengingat, atau mengorganisir hal.

Anak dengan kelainan menghitung akan kesulitan dalam mengingat atau mengorganisir nomor, serta memahami operasi aritmatika (contohnya seperti 4+4=8).

Gangguan Belajar dalam Menulis (Dysgraphia)

Gangguan belajar dalam menulis berhubungan dengan kemampuan fisik anak dalam menulis ataupun mental si kecil dalam memahami informasi. Dysgraphia dasar merujuk pada kesulitan anak dalam membentuk huruf atau kata. Intinya, si kecil kesulitan dalam mengekspresikan hal yang ada di kepalanya ke dalam bentuk tulisan.

Ada beberapa gejala dari kelainan belajar yang satu ini, diantaranya adalah masalah yang berhubungan dengan:

  1. Tingkat kerapihan tulisan
  2. Konsistensi tulisan
  3. Keterampilan mengeja
  4. Akurasi anak dalam menyalin tulisan
  5. Pengurutan kata
JENIS KELAINAN BELAJARKESULITAN DALAM
Dyslexia (Membaca)Membaca, menulis, mengeja, dan berbicara
Dyscalculia (Menghitung)Menyelesaikan masalah matematika, memahami waktu, menggunakan uang
Dysgraphia (Menulis)Tulisan tangan, mengeja dan menumbuhkan ide
Dyspraxia (Kemampuan Motorik)Koordinasi tangan dan mata, keseimbangan, ketangkasan diri
Dysphasia (Berbahasa)Memahami bahasa (secara lisan), pemahaman bacaan
APD / Auditory Processing Disorder (Kesulitan mendengar perbedaan suara)Membaca, memahami suatu hal, berbahasa
VPD / Visual Processing Disorder (Kesulitan mengartikan informasi dalam bentuk visual)Membaca, berhitung, menentukan arah, simbol dan gambar